Tag: Resensi Buku

  • Politik Sandiwara

    Politik Sandiwara

    TAK dipungkiri, politik sudah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya kehidupan politisi. Jika politik dalam arti luas adalah kegiatan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, maka hampir setiap kehidupan kita adalah kegiatan politik. Namun dalam arti sempit, politik merupakan segala urusan menyangkut negara atau pemerintahan melalui penentuan tujuan dan cara mencapai tujuan tersebut.

    Dalam praktiknya, terjadi komunikasi politik antara penguasa dengan rakyatnya. Atau anggota dewan dengan konstituennya. Namun sering kali, komunikasi antar keduanya tersumbat. Malah, demi meraup simpati masyarakat, politisi mengobral janji yang belum tentu dapat ditepati. Sementara dari masyarakat pun menerima dengan setengah hati. Di depan tersenyum kepada penguasa, namun di belakang bisa menghujat habis.

    Itu salah satu contoh fenomena yang diangkat Nurudin dalam buku “Komunikasi Politik dalam Masyarakat Tidak Tulus”. Nurudin mencoba mengurai masalah carut-marut kehidupan politik di Indonesia sejak dahulu hingga kini bermuara pada satu hal, yaitu berkembang biaknya komunikasi masyarakat yang tidak tulus. Sikap ini yang kemudian memengaruhi perilaku, termasuk dalam kehidupan politik.

    Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang ini bahkan mencoba menggambarkannya dengan lingkaran setan ketidaktulusan. Ini adalah gambaran bagaimana ketidaktulusan dalam berkomunikasi politik, merambat hingga ke sikap elite politik dan memengaruhi kebijakan yang dikeluarkan penguasa. Pun penuh dengan pencitraan, keculasan, dan tujuan-tujuan terselubung.

    Untuk mengurai masalah komunikasi tersebut, Nurudin membagi buku setebal 200 halaman tersebut menjadi empat bagian. Bagian pertama membahas bagaimana elite politik mencoba memengaruhi masyarakat dengan beragam cara. Nurudin menulis, negeri ini penuh dengan skenario politik. Mulai dari pemerintah, sampai kelompok masyarakat yang berseberangan masing-masing punya skenario masing-masing. Masyarakat, akhirnya hanya menjadi “alat” untuk mencapai tujuan skenario politiknya.

    Di bagian kedua, mengulas tentang peran partai politik (Parpol) yang fungsi idealnya semakin tereduksi. Dalam teori, Parpol adalah kendaraan politik untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu berkuasa. Namun saat berkuasa, bisa jadi Parpol akan diam saat ada kebijakan kadernya yang tak sesuai harapan masyarakat. Padahal sebelum berkuasa, partai-partai tersebut seolah bersama rakyat menentang ketidakadilan.

    Bagian ketiga, berbicara tentang pasang surut dinamika politik masyarakat. Bentuk-bentuk pragmatisme masyarakat dalam berpolitik, masih menjamurnya politik uang, adalah bentuk dinamika politik masyarakat. Apalagi gara-gara perbedaan pilihan dan kepentingan, masyarakat mudah terbelah dan saling benci. Tak membahas pada substansi isi, namun pada figure dan ketidaksukaan.

    Sementara bagian keempat, mengulas tentang bagaimana aturan hukum bisa berubah sesuai kepentingan penguasa. Seperti sudah menjadi watak, di mana setiap produk aturan atau undang-undang di Negara mana pun dan pada kepemimpinan siapa pun akan mencerminkan rezim yang berkuasa.

    Buku ini merupakan kumpulan keresahan Nurudin yang sudah dituangkan sebelumnya dalam berbagai tulisan opini di media massa, bahkan sejak lebih dari lima tahun. Namun, konteks dan fenomenanya masih aktual hingga kini. Melalui buku ini, Nurudin ingin mengajak masyarakat untuk kritis, tidak perlu fanatik kepada satu figur, jika akhirnya mengkhianati kepercayaan yang diberikan. Cukup dibuat santai, agar tidak ada sakit hati jika politisi atau penguasa tersebut tidak menepati janjinya.

    Terbitnya buku ini juga berada di momen yang tepat saat pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak akan dilangsungkan. Buku ke-21 milik Nurudin ini cocok menjadi referensi bagi para pemangku kepentingan, calon kepala daerah, dan masyarakat agar menjadi tamparan diri sendiri, agar lingkaran setan ketidaktulusan dapat terputus. Meskipun rumit, pelik, dan jalan berliku. Selamat membaca. (*)

    DATA BUKU

    Judul buku: Komunikasi Politik Dalam Masyarakat Tidak Tulus

    Pengarang: Nurudin

    Penerbit: Prenada, Jakarta

    Tahun Terbit: Juli 2020

    Jumlah halaman: xiv + 198

    Peresensi: Muhammad Zulfikar Akbar

    Tulisan ini telah terbit di Bontangpost.id

  • Merenungi Kebijakan yang Bikin Pusing

    Merenungi Kebijakan yang Bikin Pusing

    Berandai-andai ialah hak setiap orang. Biasanya dilakukan setelah mengalami atau melewati satu peristiwa yang berpengaruh. Baik kepada dirinya atau pun sekitarnya. Namun pengandaian ini bukan berarti menyesali pilihan. Karena itu sudah kehendak Tuhan, setiap orang sudah pasti menjalaninya.

    Namun tidak ada salahnya berandai-andai. Apalagi jika menyangkut hajat publik. Terlebih lagi kebijakan pemerintah kepada masyarakat. Seperti yang ditulis oleh Nurudin dalam buku teranyarnya, “Andai Pemerintah Mau”.

    Buku setebal 156 halaman itu berisikan unek-unek penulisnya terhadap kondisi bangsa ini. Terutama terkait kebijakan pemerintah yang dinilai kerap membuat bingung masyarakat. Apalagi saat pandemi COVID-19 mulai melanda.

    Gaya penulisan dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam buku ini memang “menggelitik”. Tak hanya menggelitik pemerintah, namun juga masyarakat. Sebab, meski buku ini ada unsur kata “Pemerintah”, nyatanya tak hanya mereka yang disinggung penulis ini. Tradisi atau kebiasaan masyarakat dalam menyambut suatu momen atau kejadian tertentu turut jadi perhatian.

    Judul BukuAndai Pemerintah Mau
    PenulisNurudin
    PenerbitInteligensia Media, Malang
    Cetakan1, Maret 2021
    Tebal156 halaman
    ISBN978-623-6548-72-1
    Identitas Buku

    Secara umum, ada tiga bagian dalam buku ini. Bagian pertama adalah “Aturan Tinggal Aturan, Pelanggaran Jalan Terus”. Dalam bagian ini, penulis buku ini mengkritik pemerintah yang kerap kali membuat aturan, namun juga kerap kali dilanggarnya. Aturan yang semestinya dapat ditegakkan demi kemajuan peradaban bangsa, justru minim pelaksanaannya di lapangan.

    Dalam satu paragraf di bagian ini, Nurudin menulis, berbagai carut-marut sistem pemerintahan kita selama ini karena tiadanya penegakan hukum yang pasti, tegas, dan nyata. Hukum sekadar menjadi hiasan administratif bahwa kita memang kaya hukum. Lembaga legislatif memang banyak memproduksi hukum. Tetapi tidak ada yang menangkal bahwa para pemroduksi hukum itu “bersih” dari masalah hukum, bukan?

    Pun misalnya dalam mengambil kebijakan. Sudah berulang kali membuat keputusan yang hasilnya tak memuaskan, tak efektif dalam pelaksanaannya. Namun kerap kali pula pemerintah tetap mengambil kebijakan serupa. Seolah tak belajar dari pengalaman sebelumnya. Sudah sering salah langkah, namun masih juga dilakukan. Pakar komunikasi ini menyebut seperti seekor keledai yang harus terantuk dua kali agar dapat belajar.

    Di bagian kedua, adalah “Masyarakat Tak Berdaya, Negara Kuat”. Bagian ini sejatinya menggambarkan peran serta masyarakat yang seharusnya dapat menguatkan bangsa, namun juga dihalang oleh sekelompok lainnya yang tak senang, atau fanatik dalam mendukung pemerintah. Akibatnya, proses demokrasi dan penyampaian aspirasi kerap kali tersumbat. Entah memang “disumbat”, atau pemerintah yang tak mau dengar.

    Wujud sekelompok yang dimaksud itu, di antaranya adalah buzzer. Nurudin menulis, buzzer memang layak dikutuk karena perilakunya mengancam harmoni di masyarakat. Siapa pun yang memanfaatkan buzzer menjadi pihak yang bertanggung jawab. Namun kita pun turut berterima kasih kepadanya. Karena buzzer telah menjadi musuh bersama, membuat masyarakat bersatu untuk melawannya.

    Sementara di bagian ketiga, adalah “Orang Gila, Makin Dicari Karena Berani”. Di tengah kejenuhan masyarakat terhadap situasi bangsa, perlu beberapa langkah “gila” agar bangsa ini sedikit tertawa. Tak melulu terbawa suasana serius nan mencekam. Soal politik anggap saja sebagai lawakan, karena toh pemerannya kadang “menghibur” masyarakatnya dengan berbagai aturan yang kerap kali juga dilanggarnya.

    Buku ini adalah kumpulan tulisan dari Nurudin yang sebelumnya sudah terbit di berbagai media massa. Tulisan-tulisan yang berserakan itu dikumpulkan menjadi satu. Dengan gaya tulisan yang ringan dan mengalir, pembaca akan mudah mencerna pemikirannya. Agar dapat sama-sama merenungi persoalan bangsa ini. Karena merenung adalah kesadaran paling dasar bagi tiap insan. (***)

    Tulisan ini telah terbit di nomorsatukaltim.com