Author: mzulfikarakbar

  • Yang Muda Yang Menulis

    Yang Muda Yang Menulis

    Yang Muda Yang Menulis

    Penyunting dan Layouting : M Zulfikar Akbar.

    Desain Sampul : Fany Puspita Rahayu.

    Diterbitkan oleh : Nida Dwi Karya Publishing

    Bekerjasama dengan : Media Mahasiswa Publishing

  • Menggapai Mimpi

    Menggapai Mimpi

    MENGGAPAI MIMPI

    Oleh:

    • Muhammad Zulfikar Akbar
    • Fany Puspita Rahayu
    • Maharina Novia Zahro
    • R. Moh. Rival Nurriski Utomo
    • M. Natsir Arie Hatta
    • Warda Firdausi Karimah
    • Media Lely
    • Ade Chandra Sutrisna
    • Devi Melasheni
    • Lailatun Nailiya Yusfa
    • Annisa Rizki Ananda
    • Bagas Suryo Adi
    • Rival Fahri
    • Danny Rahardian
    • T. Septiandi Wijaya

    Penerbit: Media Mahasiswa Publishing

    Penyunting : Muhammad Zulfikar Akbar

    Desain Sampul: Fany Puspita Rahayu

    Diterbitkan melalui: www.nulisbuku.com

  • Saring sebelum Sharing

    Saring sebelum Sharing

    SAYA tercengang melihat berita hari ini (12/3/2021). Berita yang saya sunting, tentang penjualan SIM card yang sudah teregistrasi. Jumlahnya pun tak main-main, 66 ribu SIM cardyang disita polisi. Lebih dari tiga perempatnya sudah terisi dengan data orang lain. (Baca juga: Polresta Samarinda Ungkap 66 Ribu SIM Card Teregistrasi Orang Lain)

    Setelah SIM card-nya siap, dijual dengan harga murah. Rp 10 ribu-20 ribu per kartunya. Pembeli tak perlu repot mendaftar kembali. Dalih penjual, “beli, tinggal pakai.”

    Seolah cara ini terbilang praktis. Namun ternyata ada bahaya yang tersembunyi. Karena SIM cardyang dibeli tak seutuhnya milik pribadi. Kartu perdana itu masih “milik” orang lain.

    Inilah yang diresahkan polisi. Susahnya menangkap pelaku-pelaku penipuan via onlineyang jamak terjadi, dicurigai karena menggunakan SIM card yang sudah lebih dulu teregistrasi ini. Dengan temuan polisi ini, saya ikut cemas. Apakah data saya termasuk yang diperjualbelikan?

    Saya mencoba menelusuri di mesin pencari Google. Baru saja mengetik “KTP Elektronik” dalam kolom pencarian, muncul lebih dari 6 juta hasil pencarian terkait KTP di sana. Gambar-gambar yang muncul bahkan sebagiannya terpampang utuh. Dalam arti, mulai Nomor Induk Kependudukan (NIK), nama, alamat, hingga golongan darah ada di sana.

    Baca juga: Bijak Bermedia Sosial

    Kata Direktur Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia (Kemendagri RI) Zudan Arif Fakhrulloh, dikutip dari tirto.id, ada sejumlah pihak yang “memulung” data pribadi yang tercecer di internet. Kadang juga masyarakat membagikan sendiri data kependudukannya di dunia maya. Data kependudukan tak hanya disimpan oleh pihaknya.

    Saya menggarisbawahi kalimat “membagikan sendiri data kependudukannya di dunia maya”. Inilah yang membuat saya ngeri. Dan ini pula lah yang saya temukan di internet. Kala masyarakat masih dengan leluasa memamerkan KTP maupun Kartu Keluarga (KK)-nya. Padahal harus disadari, data ini sangatlah rahasia.

    Dalam era big data seperti ini, NIK ibarat single identity number. Satu nomor yang menghubungkan ke banyak hal. Seperti rekening di bank, surat izin mengemudi, akses ke jaminan kesehatan, e-commerce, dan lain-lain. Jika tak dijaga dengan bijak, bisa jadi data kita digunakan oleh orang jahat tadi. Entah mereka mengaku sebagai diri kita, ataupun digunakan untuk menipu anggota keluarga.

    Di Pasal 28G Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 jelas mengakui adanya hak privasi warga negara. Namun nyatanya, negara masih belum memberikan perlindungan terhadap data pribadi warga.

    Untuk itu, Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Data Pribadi (PDP) sudah sewajarnya didesak publik. Sudah kesekian kalinya, RUU ini terlempar dari Program Legislasi Nasional (Prolegnas). Padahal, RUU ini penting agar masyarakat juga mendapat jaminan atas kerahasiaan data pribadinya.

    Namun publik tak bisa hanya menunggu undang-undang disahkan. Perlu ada partisipasi diri, minimal mencegah datanya sendiri bocor ke dunia maya. Salah satunya, untuk berhati-hati dalam mengunggah dan membagikan (sharing) data pribadi.

    Sama halnya saat ramai-ramai vaksinasi COVID-19 perdana. Sejumlah orang dengan bangga memosting sertifikat vaksinasinya. Entah di media sosial Facebook, atau story Instagram, bahkan juga di pesan singkat WhatsApp. Perlu diingatkan, di dalam sertifikat itu, ada unsur NIK, nomor ID sertifikat, serta QR code. Beberapa memang ada yang memosting utuh, ada pula yang memosting dengan menutupi NIK dan ID sertifikatnya. Namun tampaknya mereka lupa menutup QR code-nya.

    Hal ini juga diamini Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Menkominfo RI) Johnny G. Plate. Dilansir dari beberapa media, ia meminta masyarakat untuk tidak mengunggah sertifikat vaksinasi itu. Apalagi diunggah secara utuh. Sebab, hanya dengan membaca QR code saja, data orang yang vaksinasi itu bisa terbaca.

    Jangan sampai, kita yang dirugikan akibat ulah kita sendiri. Gara-gara sharing sembarangan, data kita ikut dimanfaatkan. Padahal, Bang Napi, tokoh ikonis program kriminal di salah satu televisi swasta itu sudah sering berkata, “kejahatan terjadi bukan saja karena ada niat pelakunya, namun karena juga ada kesempatan.” Semoga kita semua tak memberi kesempatan orang-orang jahat untuk berbuat semaunya, terutama dengan data pribadi kita. (*)

    Artikel ini telah tayang di Nomorsatukaltim.com, Jumat (12/3/2021).

  • UKW dan Media Sosial

    UKW dan Media Sosial

    Saya baru saja mengikuti uji kompetensi wartawan (UKW) yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bontang, Sabtu-Minggu (27-28/2/2021) lalu. Sekadar diketahui, UKW sama seperti sertifikasi profesi yang digelar pemerintah. Bedanya, ini khusus digelar untuk wartawan.

    Ada tiga tingkatan kompetensi wartawan. Pertama, wartawan muda. Tingkatan ini untuk wartawan pemula yang baru menjalani profesi ini minimal setahun. Kedua, wartawan madya. Tingkatan ini untuk level asisten redaktur, redaktur, hingga redaktur pelaksana. Ketiga, wartawan utama. Tingkatan ini untuk level wakil pemimpin redaksi dan pemimpin redaksi.

    Gelaran UKW yang digelar PWI Bontang ini merupakan angkatan ke-19. Dua dari tiga uji kompetensi digelar, yakni wartawan muda dan wartawan madya. Diikuti oleh 17 peserta, dengan rincian 12 peserta wartawan muda, dan 5 wartawan madya.

    Hasil ujian ini pun diumumkan terbuka oleh penguji kepada masing-masing peserta. Kompeten, atau tidak kompeten. Bersama hasil ujian, dengan nilai minimal kelulusan adalah 70. Di UKW angkatan ke-19 ini, 16 peserta dinyatakan kompeten, hanya satu yang dinyatakan belum kompeten.

    Bagi saya pribadi, ini adalah UKW yang kedua. Pertama kali mengikutinya, di November 2016 lalu. Waktu itu, mengikuti ujian level muda. Ya, namanya juga baru berkecimpung secara penuh di profesi ini saat lulus kuliah di tahun yang sama. Alhamdulillah, saat itu dinyatakan kompeten sebagai wartawan muda.

    Nyaris lima tahun berselang, ini adalah gelaran UKW saya yang kedua. Kali ini, mengambil level madya. Jujur, ini adalah UKW yang susah-susah gampang. Susahnya, karena saya sudah jarang turun ke lapangan. Sebagian besar waktu, terutama di dua tahun terakhir saya habiskan hanya di belakang meja. Ya, itu salah saya. Mohon jangan ditiru.

    Gampangnya, sebagian besar mata uji di level madya sudah saya kuasai. Kecuali di satu mata uji: investigasi. Selama ini ada beda persepsi. Liputan yang dulu saya anggap investigasi, oleh penguji hanya disebut in-depth news. Saya pun harus belajar singkat selama 12 jam sebelum memasuki mata uji itu. Alhamdulillah, saya lulus. Dinyatakan kompeten sebagai wartawan madya.

    Ada banyak pelajaran yang saya dapat dari UKW kali ini. Selain ilmu baru, ujian kali ini menyadarkan saya akan esensi utama wartawan saat ini di era digital. Hal yang membuatnya berbeda dengan media sosial. Disiplin verifikasi namanya.

    Suasana ruang uji kompetensi wartawan madya. (Foto: Fahmi Fajri)

    Media sosial saat ini ibarat gado-gado. Semua informasi bercampur. Dari yang positif sampai negatif. Dari yang memberi motivasi, sampai yang memberi provokasi. Jika demokrasi, kata Abraham Lincoln adalah (pemerintah) dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Maka media sosial adalah (informasi) dari pengguna, oleh pengguna, dan untuk pengguna.

    Informasi yang begitu melimpah itu jika tak disikapi dengan bijak, dapat berpengaruh negatif di dunia nyata. Informasi hoaks soal vaksin covid misalnya. Atau informasi aktivitas seismik yang malah dianggap hoaks oleh warganet. Hingga internet seluruh dunia padam, informasi-informasi tersebut akan terus berseliweran di dunia maya.

    Lalu, siapakah yang bisa memverifikasi kebenaran informasi-informasi tersebut di dunia maya? Wartawan adalah jawabannya. Profesi ini memiliki akses untuk menghubungi narasumber terkait informasi yang dicari. Memiliki kemampuan menyajikan fakta yang didapat, untuk menjernihkan informasi yang simpang siur di masyarakat.

    Untuk itulah, di beberapa media hadir rubrik clearing hoax. Membersihkan kabar-kabar hoaks yang beredar di masyarakat melalui media sosial. Memberikan informasi yang lebih akurat. Agar masyarakat tidak terjebak pada informasi yang salah.

    Bagaimana bisa yakin wartawan tersebut mendapatkan informasi yang benar? Salah satunya, ialah kompetensinya. Wartawan yang dinyatakan berkompeten, baik level muda, madya, dan utama, adalah wartawan yang sudah lulus di segala aspek dan prosedur jurnalistik yang benar. Mampu merencanakan, mengolah, dan memublikasikan berita dengan proses yang ketat. Untuk memastikan berita yang sampai ke masyarakat sahih adanya.

    Apakah media sosial bisa melakukan itu? Saya bilang tidak. Meskipun beberapa platform terkenal sudah mulai menyusun algoritma untuk hanya menampilkan informasi-informasi dari sumber-sumber valid. Namun, kebebasan berpendapat di media sosial masih memungkinkan terjadinya bias informasi di sana.

    Lalu, apakah harus selalu menunggu wartawan atau media tertentu menguji informasinya dan menerbitkannya di media mereka? Tentu saja tidak. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah skeptis terhadap informasi yang berkembang. Skeptis terhadap informasi ini harus didasarkan pada sense of journalism. Melihat fakta-fakta dalam suatu informasi tersebut sudah memenuhi 5W+1H (what, who, where, when, why, how). Dan mencoba membandingkan informasi itu dengan sumber-sumber terpercaya lainnya.

    Jika dari 6 unsur dasar jurnalistik itu dianggap mencurigakan, sudah sepatutnya berhenti membukanya. Apalagi menyebarkannya kembali di media sosial. Karena jika dilakukan, pembodohan publik akan menang dengan sendirinya.

    Kemampuan inilah yang harus terus diasah. Terutama bagi para warganet aktif. Agar tak menjadi korban ataupun pelaku dari informasi hoaks. Wartawan dan warganet bisa saling bergandeng tangan. Untuk sama-sama memerangi kabar bohong di dunia maya. Dengan begitu, mungkin akan tiba juga satu masa, saat warganet juga perlu disertifikasi kemampuan literasinya. Kita namakan saja UKW: Uji Kompetensi Warganet. (*)

     

    Catatan: Untuk meningkatkan sense of journalism warganet, saya akan mulai membagikan konten terkait jurnalistik mulai April 2021. Semoga bisa bermanfaat untuk meningkatkan daya literasi memilah informasi yang tepat.

  • Sudah Amankah Akunmu?

    Sudah Amankah Akunmu?

    SUDAH jamak kita dengar kejadian peretasan akun Whatsapp (WA). Akun tersebut dimanfaatkan orang tak bertanggung jawab untuk memeras kontak-kontak yang ada di gawainya. Ada yang mampu menghindari penipu itu. Namun tak sedikit pula yang terperdaya.

    Ada juga kasus peretasan akun e-commerce. Memanfaatkan layanan bayar di tempat atau cash on delivery (COD), sebuah paketan datang ke rumah pemilik akun e-commerce. Padahal, ia merasa tidak memesan apapun.

    Kasus-kasus kejahatan siber (cyber crime) saat ini memang sudah semakin marak. Dunia maya ini lah perantaranya. Di saat era tahun 90an hingga sebelum 2010, kasus penipuan seperti ini biasanya menggunakan telepon.

    Bermodus sebagai seorang aparat penegak hukum, yang mengabarkan anak dari lawan bicaranya itu tersangkut masalah hukum. Agar bebas dari jerat hukum, harus mentransfer sekian juta rupiah. Atau berdalih sebagai petugas medis, yang mengabarkan anggota keluarganya mengalami kecelakaan tragis, sehinga butuh upaya medis segera. Agar dijamin keselamatannya, juga diharuskan mentransfer sekian juta rupiah.

    Kedua contoh kasus ini pernah dialami oleh kedua orang tua saya. Beruntung, orang tua saya saat itu tidak serta merta terbujuk rayu penipu itu.

    Satu dekade pun berjalan. Modus-modus seperti itu mulai ditinggalkan. Tak terbatasnya ruang dunia maya ternyata turut dimanfaatkan para pelaku kejahatan seperti ini. Modusnya kini bervariasi. Mulai dari phising (mengelabui website resmi dengan website kloning untuk mencuri data), hingga hacking (peretasan).

    Pakar Digital Forensik, Ruby Alamsyah dalam webinar bertajuk “Ekosistem Ruang Siber Indonesia, Seperti Apa?”, menjelaskan hacking zaman dulu berbeda dengan saat ini. Di era 80-90an, seseorang yang melakukan peretasan identik dengan seseorang yang super jenius. Mampu meretas dengan keterbatasan sumber daya masa itu.

    Namun kini, untuk menjadi seorang hacker sangat mudah dipelajari. Ilmunya sudah tersebar di dunia maya. Teknologinya mudah diakses. Tinggal ketekunan untuk belajar dan waktu luang untuk mengaplikasikannya.

    Apalagi di dunia serba terhubung saat ini, antara gawai pribadi dengan dunia maya terkoneksi oleh satu kunci atau kredensial utama. Yaitu surat elektronik (surel/email). Lanjut Ruby, peretas masa kini memanfaatkan kelemahan pengamanan dari surel yang kita miliki. Sebab, seluruh akun media sosial, e-commerce, aplikasi pesan singkat, perbankan, dan aplikasi lain yang terhubung ke internet, semuanya menggunakan satu kunci itu. Sekali surel itu terbobol, habislah seluruh akun yang kita miliki.

    Apa indikasi surel sudah dibobol orang lain? Ruby menjelaskan ciri-ciri yang paling mudah, adalah kita sudah tidak dapat masuk di akun surel tersebut. Jika sudah tak dapat masuk ke dalam surel, disarankan untuk langsung mengganti akun-akun yang terkoneksi dengan surel tersebut. Agar tidak segera dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan itu.

    Baca juga: Bijak Bermedia Sosial

    Selain pembobolan surel, modus-modus kejahatan lainnya adalah pembobolan akun WA. Biasanya, kejadian ini ditandai dengan adanya pesan dari seseorang untuk mengirimkan kode token atau one time password (OTP) yang berkedok undian berhadiah, atau dengan kedok-kedok lainnya. Dengan kita mengirimkan OTP atau token tersebut, sama saja dengan memberikan kunci pintu rumah kepada pelaku kejahatan untuk mengambil data yang kita miliki secara sukarela.

    Ruby menyebut, pelaku kejahatan yang meminta kode token atau OTP ini biasanya memakai teknik social engineering. Atau teknik mengiming-imingi dan merayu korbannya. Dengan bahasa-bahasa yang simpel dan persuasif, bisa membuat korban tak sadar mengirimkan kode yang diminta oleh pelaku. Hasilnya, suatu saat bisa jadi akun WA kita digunakan orang lain untuk menipu kontak yang ada di dalam ponsel.

    Metode ini tak hanya berlaku di akun WA, namun juga akun-akun lain seperti media sosial, e-commerce, dan perbankan yang menerapkan sistem token atau OTP serupa. Adakah cara lain peretas mendapatkan data-data pribadi kita selain pembobolan surel dan nomor ponsel? Jawabnya, ada! Jika di ponsel Android maupun iOS terdapat aplikasi mencurigakan, atau aplikasi financial technology (fintech)  yang belum terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), patut dicurigai aplikasi tersebut sudah disusupi spyware atau malware. Atau bahasa awamnya, virus.

    Aplikasi yang sudah disusupi spyware maupun malware tersebut begitu berbahaya. Sebab, para peretas bisa dengan mudahnya memindai data-data ponsel kita, seperti SMS ke siapa, nomor kontak, aplikasi yang sering dibuka, dan yang paling bahaya, lagi-lagi akun surel kita.

    Bagaimana cara mencegahnya, atau bagaimana jika sudah terlanjur ter-install di gawai? Kata Ruby, cukup menghapus atau men-uninstall aplikasi tersebut, kemudian pasang aplikasi antivirus yang terpercaya untuk memindai ponsel tersebut. Guna memastikan ponsel bebas dari spyware dan malware. Di sini, Ruby mengingatkan pentingnya memasang aplikasi antivirus di gawai masing-masing.

    Contoh-contoh cyber crime di atas memang masih sedikit. Sementara, banyak teknik yang digunakan peretas untuk mendapatkan data korbannya. Yang diperlukan saat ini adalah kesadaran dalam mengamankan akun-akun pribadi. Agar terhindar, atau setidaknya meminimalisasi risiko data pribadi dimanfaatkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab.

    Dalam sesi tanya jawab di penghujung webinar, Ruby menjawab khusus pertanyaan dari Disway-Nomor Satu Kaltim, bagaimana langkah mengamankan akun-akun pribadi ini. Ponsel, kata dia, adalah alat kegunaan sehari-hari masyarakat saat ini.

    Zaman sekarang, orang ketinggalan dompet mungkin biasa saja. Namun ketinggalan ponsel, orang tersebut akan putar balik. Vitalnya fungsi ponsel saat ini, harus jadi perhatian seluruh penggunanya. Untuk mengamankan seluruh data dan akun di dalamnya. Karena jika tidak, ponsel tersebut dapat jadi celah kejahatan siber.

    Langkah pertama pengamanan, kata Ruby, adalah memastikan sistem operasi atau operating system (OS) ponsel tersebut merupakan yang ter-update. Baik itu Android maupun iOS, disarankan mengaktifkan automatic update agar selalu mendapatkan pembaruan perangkat lunak.

    Langkah kedua, hampir sama dengan langkah pertama. Memastikan seluruh aplikasi yang terpasang di ponsel juga telah ter-update. Serta pastikan memasang aplikasi tersebut dari official store-nya. Jika Android menggunakan Google Play Store, jika iOS menggunakan Apple App Store.

    Langkah ketiga, melakukan pengamanan akun surel menggunakan metode two factor authentication (TFA), atau autentikasi dua faktor. Seluruh layanan penyedia surel seperti Google, sudah menyediakan fasilitas pengamanan akun ini. Pun sama halnya aplikasi perbankan, e-commerce, dan media sosial. Mengaktifkannya pun cukup mudah. Hanya butuh empat atau lima langkah, aplikasi tersebut sudah diamankan dengan TFA.

    Begitulah ragam kejahatan di dunia siber. Begitu kompleksnya cara peretas mendapatkan data pribadi seseorang, dan begitu pentingnya kita menjaga data pribadi yang ada dalam akun maupun gawai masing-masing. Cara seperti ini mungkin masih bisa dipakai hingga 2-3 tahun ke depan. Karena bisa jadi, setelah lewat tahun itu, atau bahkan lebih cepat dari yang diprediksi, peretas menemukan metode baru lainnya. Dan kita pun harus segera sadar diri dan beradaptasi, mengamankan akun masing-masing dari celah kejahatan siber. (*)

    Catatan ini telah terbit di nomorsatukaltim.com

  • Gairah Wisata Lewat Media Sosial

    Gairah Wisata Lewat Media Sosial

    SAYA mengikuti pelatihan Promosi Wisata Kreatif melalui Media Sosial, Senin (23/7/2018) lalu. Bukan sebagai peserta, namun turut berpartisipasi sebagai pemateri, atau istilahnya inspirator di acara tersebut.

    Tema ini sungguh menarik, karena pelaku wisata di Bontang sudah aware dengan pentingnya promosi melalui media sosial. Hal inilah yang membuat saya langsung mengiyakan tawaran untuk menjadi pemateri di acara kali ini.

    Saya pun memulainya dengan memaparkan data yang berkaitan dengan tema ini. Pada 2017, ada sekitar 143,26 juta masyarakat Indonesia yang terhubung dengan internet. Ini berarti ada lebih dari 54 persen dari penduduk Indonesia juga sudah menjadi penduduk dunia maya.

    Data itu kemudian dikerucutan kembali berdasarkan kelompok usia. Ditemukan hasil, sekitar lebih dari 49 persen pengguna internet di Indonesia, adalah penduduk berusia 19-34 tahun. Saya menyebutnya ini adalah generasi Y, yang lahir di kurun waktu 70an akhir hingga 90an akhir.

    Sementara 29,55 persen merupakan pengguna di kelompok usia 35-54 tahun. Mereka saya sebut adalah generasi X yang lahir di kurun waktu 60an hingga 70an. Sisanya, yakni 16,68 persen yang dihuni kelompok usia 13-18 tahun. Saya menyebutnya generasi Z yang lahir di kurun waktu 90an akhir hingga pertengahan 2000an.

    Dan 4,24 persen adalah kelompok usia di atas 54 tahun yang saya sebut generasi baby boomers yang lahir di sekitar tahun 40 hingga 50an. Data yang saya peroleh dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) ini bisa jadi landasan awal untuk merancang strategi promosi yang tepat dari pelaku wisata kepada target audience-nya.

    Dari data ini pun sekilas bisa disimpulkan, jika generasi X, Y, dan Z adalah pasar potensial bagi para pelaku wisata untuk menggaet wisatawan. Sebenarnya, masih ada satu generasi lagi yakni generasi alpha, yaitu generasi yang lahir di tahun 2010 hingga saat ini.

    Sekadar diketahui, generasi baby boomers adalah generasi yang hidup dengan teknologi konvensional seperti koran dan radio. Sementara generasi X, mereka hidup di era berkembangnya televisi, dan generasi Y hidup di era berkembangnya teknologi internet. Sedangkan generasi Z dan generasi alpha adalah mereka yang hidup di saat internet dan gawai sudah semakin memengaruhi kehidupan. Segala keperluan, akses informasi, dan lain sebagainya didapatkan dari gawai dan internet. Cukup sekali klik, apa yang dicari akan ditemukan dengan cepat dan mudah.

    Kembali ke topik bahasan, dengan mengetahui pangsa pasar atau target umur wisatawan, maka dapat membantu untuk membuat konten-konten promosi yang lebih kreatif. Survei terbaru dari riset We Are Social Hootsuite, disebutkan Youtube merupakan media sosial yang lebih banyak diakses oleh netizen –sebutan warga dunia maya-. Baru diikuti oleh Facebook, Whatsapp, dan Instagram.

    Hasil riset ini juga bisa jadi pegangan bagi pelaku wisata. Youtube, yang notabene adalah media sosial untuk berbagi video masih jadi pilihan favorit netizen, utamanya untuk mencari informasi terkait tempat wisata yang dikunjungi. Sedangkan Facebook dan Whatsapp, adalah media sosial tempat menyebarkannya informasi promosi wisata, dan Instagram sebagai “album foto” digital saat ini.

    Lalu, seperti apa strateginya? Yakni dengan mengintegrasikan keempat media sosial tersebut menjadi satu. Youtube bisa dimanfaatkan oleh para pengelola wisata untuk mengeksplor lebih jauh pesona dan keindahan tempat wisata yang ditawarkan. Alih-alih tempat wisata, wisata kuliner pun juga bisa dibuatkan video yang sama dengan konsep ala-ala televisi masa kini.

    Caranya, konsep video tersebut secara kreatif, buatlah seolah-olah para penonton video tersebut di Youtube nanti ikut merasakan mendatangi tempat wisata tersebut, atau merasakan apa yang ada di video tersebut. Tak punya Sumber Daya Manusia (SDM) andal untuk buat video? Para pengelola wisata bisa menggaet anak-anak SMA yang punya mata pelajaran film. Anda tak repot, dan juga berbiaya murah. Anak-anak pun pasti senang diajak berwisata.

    Kemudian apa fungsi Facebook? Media sosial ini bisa “ditugaskan” untuk jadi halaman utama jika ingin mencari informasi lebih lanjut tentang tempat wisata yang dimaksud. Lengkapi mulai dari sejarah, aktivitas wisatawan yang sedang di tempat wisata tersebut dilengkapi beberapa fotonya, dan lain-lain. Sesekali, buatlah infografis tentang tempat wisata yang ditawarkan.

    Langkah selanjutnya apa? Bagikan postingan tersebut di grup-grup Facebook. Bisa grup jual beli, grup warga kota, dan lain sebagainya. Selanjutnya, Whatsapp untuk apa? Whatsapp sebagai aplikasi messenger dapat digunakan untuk membagikan konten-konten yang sudah dibuat di Facebook maupun Youtube. Penetrasi langsung kepada calon wisatawan melalui pesan jaringan pribadi (japri), ataupun grup Whatsapp dinilai efektif untuk menggaet wisatawan baru.

    Sementara Instagram, isilah dengan foto-foto yang “berbeda”. Berbeda seperti apa? Yakni dengan terkonsep dan terencana dengan baik. Selaiknya album foto yang baik, carilah angle atau sudut pandang yang menggambarkan keindahan wisata tersebut. Misalkan dengan deburan ombak, keragaman flora dan fauna, kelengkapan fasilitas, dan lain-lain. Sesekali, bisa dengan bantuan model untuk membantu memperindah foto tersebut.

    Cara-cara ini, saya yakin juga sudah dilakukan oleh para pelaku wisata di Kota Taman. Buktinya, sudah ada kenaikan jumlah wisatawan yang cukup signifikan di 2018 ini. Dari data Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Bontang, ada kenaikan hingga tiga kali lipat. Ini sudah merupakan awal yang positif, yang harus menjadi penyemangat untuk membenahi dan meningkatkan angka wisatawan di Bontang.

    Namun, seluruh langkah-langkah ini tak ada artinya jika tak ada konsistensi. Konsistensi dalam berpromosi di dunia maya. Selain itu, pentingnya tetap menjaga dan merawat tempat wisata baik oleh pengelola wisata itu sendiri maupun wisatawan itu sendiri. Sebab, saya pun melihat langsung masih banyak oknum wisatawan yang tak peduli dengan kebersihan dan keindahan tempat wisata yang dikunjunginya.

    Di salah satu obyek wisata Mangrove misalnya, dengan seenaknya membuang bungkus makanan di laut. Padahal, tempat sampah hanya berjarak sekitar 20 meter dari tempatnya berdiri. Jika Bontang ingin menjadi salah satu dari “Bali Baru”-nya Indonesia, maka perlu kerjasama antara pemerintah serta masyarakat.

    Dengan fokus pembangunan ke arah maritim, pengembangan potensi wisata maritim di Kota Taman saya yakin masih dapat terus berkembang. Terlebih, Pemkot Bontang sudah mendukung penuh dan masuk dalam visi-misinya. Tinggal bagaimana masyarakat turut meramaikan tempat wisata di Bontang.

    Tak hanya mengunjunginya, namun juga merawatnya, ikut menjaga kebersihan dan keindahannya, serta membagikan cerita keindahannya tersebut kepada masyarakat dunia maya, sehingga dapat tersebar ke seluruh penjuru nusantara, bahkan dunia. (*)

    Sudah terbit di Bontang Post.

  • Bijak Bermedia Sosial

    Bijak Bermedia Sosial

    BOCORNYA 87 juta data pengguna Facebook di seluruh dunia dan diduga dimanfaatkan oleh Cambridge Analytica, menjadi pukulan telak bagi Mark Zuckerberg. Sang Chief Executive Officer (CEO) harus menerima kecaman dari banyak pihak.

    Bahkan Selasa (10/4/2018) lalu, ia menjadi bulan-bulanan cecaran para senator Amerika Serikat (AS) yang mempertanyakan tentang keamanan data pribadi di media sosial ini. Data-data pengguna yang bocor, seperti tudingan dari berbagai pihak, dimanfaatkan untuk kepentingan Pemilu Presiden (Pilpres) AS 2016 lalu.

    Meski belakangan, Cambridge Analytica yang dituduh memanfaatkan kebocoran data tersebut membantahnya. Hanya sekira 30 juta data pengguna yang mereka manfaatkan, diperoleh dari perusahaan yang berizin resmi Facebook, dan tidak digunakan untuk membantu Donald Trump menang di Pilpres AS 2016.

    Meski begitu, publik sudah terlanjur geram. Facebook seakan sudah melalaikan kepercayaan yang diberikan oleh penggunanya saat pertama kali menyetujui terms and agreement kala mendaftar Facebook. Namun Facebook tak bisa disalahkan sendirian. Sebab, Zuckerberg dalam keterangannya di hadapan senator menyebut, pengguna punya akses penuh atas data yang mereka miliki.

    Pernyataan ini saya pastikan benar. Sebab, bagi orang yang benar-benar mau membaca terms and agreement, menyimak dengan baik segala persyaratan dan konsekuensi yang diterima jika menggunakan aplikasi pihak ketiga, pasti menemukan beberapa opsi yang dibebaskan kepada pengguna untuk memilihnya. Apakah memilih untuk mempersilakan aplikasi pihak ketiga terhubung dengan data profil Facebook, ataupun tidak memperbolehkan aplikasi pihak ketiga mengakses seluruh data yang kita miliki.

    Namun, banyak pengguna Facebook yang ternyata abai dalam melakukan “proofing”. Maksudnya, membaca dan menyimak dengan baik aturan serta konsekuensinya, sebelum bermain atau mengakses aplikasi pihak ketiga ini. Akhirnya, pengguna mengakses aplikasi pihak ketiga seperti permainan kepribadian, dan lain-lain. Sedangkan pengguna juga menyetujui mereka mengakses data pribadi yang kita miliki.

    Padahal, proses “proofing” ini penting agar kita benar-benar yakin untuk membagikan secara sukarela atau tidak data pribadi yang kita miliki kepada aplikasi pihak ketiga. Isu kebocoran data ini tak hanya ada di AS saja. Dari rilis yang disampaikan Chief Technology Officer (CTO) Facebook Mark Schoepfer, Indonesia berada di urutan ketiga dalam daftar negara yang terdampak, setelah AS di peringkat pertama dan Filipina di peringkat kedua.

    Menurut rilisnya, ada sekitar 1 juta akun Facebook di Indonesia yang bocor. Diyakini pula oleh berbagai pihak, data pengguna Facebook yang bocor di Indonesia itu dimanfaatkan untuk kepentingan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jakarta 2017 lalu.

    Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) selaku regulator sudah melayangkan surat peringatan kepada Facebook Indonesia, agar menjelaskan permasalahan terkait penyalahgunaan data pribadi pengguna Facebook oleh pihak ketiga. Pun meminta kepastian Facebook untuk menjamin data pribadi pengguna di Indonesia.

    Sayangnya, karena jawaban Facebook Indonesia dinilai kurang memuaskan, Kominfo melayangkan surat peringatan kedua kepada Facebook. Media sosial yang dipakai oleh 130 juta masyarakat Indonesia (data dari Internet World Stat tahun 2017) ini terancam ditutup oleh pemerintah, jika tak bisa memberikan jawaban yang memuaskan.

    Soal jaminan perlindungan data pribadi, sebenarnya sudah diatur dalam Peraturan Menteri (Permen) Kominfo Nomor 20 Tahun 2016 tentang Perlindungan Data Pribadi dalam Sistem Elektronik. Agar masyarakat paham tentang hak-haknya sebagai pemilik data pribadi, dalam pasal 26 dijabarkan secara jelas, di antaranya pemilik data pribadi berhak:

    a. Atas kerahasiaan data pribadinya;
    b. Mengajukan pengaduan dalam rangka penyelesaian sengketa data pribadi atas kegagalan perlindungan kerahasiaan data pribadinya oleh penyelenggara sistem elektronik kepada menteri;
    c. Mendapatkan akses atau kesempatan untuk mengubah atau memperbarui data pribadinya tanpa mengganggu sistem pengelolaan data pribadi, kecuali ditentukan lain oleh ketentuan perundang-undangan. (selebihnya bisa dibaca di permen kominfo).

    Atas kasus ini, jika memang ditemukan data pribadi masyarakat yang diambil dari Facebook dan dimanfaatkan untuk kepentingan lain, maka dapat mengajukan pengaduan langsung kepada menteri karena dinilai gagal memberikan perlindungan kerahasiaan data pribadinya.

    Meski begitu, baik pihak Facebook dan masyarakat tampaknya sudah harus mulai belajar satu sama lain. Pihak Facebook diminta untuk menjaga kepercayaan masyarakat untuk menjaga data pribadi penggunanya. Di sisi lain, masyarakat harus mulai bijak untuk menaruh data-data pribadinya di media sosial yang rentan diakses oleh semua orang.

    Semoga dengan kejadian ini, kita dapat memanfaatkan media sosial dengan baik, bijak, dan menggunakannya untuk kepentingan yang baik pula. Meski Facebook terancam diblokir, hal itu tidak menjadi masalah berarti. Facebook bukanlah kebutuhan primer. Masih banyak cara untuk terkoneksi satu sama lain dengan masyarakat dunia. Teknologi adalah tentang kebermanfaatannya untuk khalayak. Jika sudah tidak bermanfaat, lebih baik tinggalkan saja. (*)

    Sudah terbit di Bontang Post dengan dilakukan penyesuaian judul.

  • Reuni di UMM, Saling Berbagi dan Belajar

    Reuni di UMM, Saling Berbagi dan Belajar

    UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) adalah kampus tempat saya menimba ilmu. Kurang lebih empat tahun berada di Kampus Putih, turut membuka wawasan dan koneksi dengan orang-orang hebat. Kesempatan reuni kembali setahun pasca lulus pun terbuka, usai menghadiri kegiatan di Surabaya, 2017 lalu. Berikut kisah saya yang pernah terbit di harian Bontang Post.

    Baca juga: Bertemu Azrul di Graha Pena

    Oleh-Oleh Perjalanan dari Surabaya-Malang (2/Habis); Safari Kampus, Belajar Pengelolaan TV hingga Cari Bibit Jurnalis Muda

    Usai belajar di Graha Pena Jawa Pos Surabaya selama dua hari, Muhammad Zulfikar Akbar juga berkesempatan “pulang kampung” ke Malang. Di Kota Apel tersebut, banyak pelajaran yang bisa diperoleh untuk dibawa pulang ke Bontang.

    Muhammad Zulfikar Akbar, Bontang 

    SELAIN menemui keluarga yang telah kembali ke Malang, tujuan saya yang lain yakni belajar mengenai teknis pengelolaan stasiun tv yang ada di kampus almamater saya, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

    Tak banyak pengalaman menjadi bagian dari tv kampus tersebut selama berkuliah di kampus yang khas dengan gedung bundarnya dan warna putih di seluruh gedungnya. Untuk itulah, ini menjadi kesempatan emas untuk kembali belajar mengelola tv, untuk diadaptasi di Bontang TV (BTV).

    Stasiun TV bernama UMM TV tersebut bukanlah stasiun tv terestrial seperti kebanyakan tv lokal lainnya. Malahan, tv tersebut hanya aktif saat kegiatan kampus berlangsung, seperti seminar nasional, wisuda, dan kegiatan lainnya. Meski begitu, alat-alatnya cukup canggih untuk di kelasnya. Dibekali dengan ruangan mini studio yang representatif lengkap dengan pencahayaan dan green screen, serta master control room (MCR) yang apik, membuat siapa yang masuk dan melihatnya akan terkagum-kagum dan iri.

    Hal itu pula yang saya rasakan begitu memasuki ruang laboratorium ilmu komunikasi yang memuat studio dari UMM TV. Meski baru sekitar delapan bulan meninggalkan kampus tersebut, namun rasa kagum selalu timbul kala melihat studio tv itu. Terlebih, sembari melihat para mahasiswa semester dua sedang mempraktikkan mata kuliah dasar shooting dan editing, membuat saya sediki bernostalgia pada masa-masa kuliah.

    Di sana saya bertemu dengan kepala laboratorium yang sekaligus membidangi UMM TV, Jamroji. Usianya memang tak muda lagi. Meski tak mengetahui dengan pasti kisaran umurnya, namun rambutnya yang sudah memutih sudah menunjukkan bukti nyata. Meski begitu, Jamroji masih tetap semangat untuk mengajar, bahkan mengelola UMM TV di bawah kendali laboratorium ilmu komunikasi.

    Dalam bincang-bincang tersebut, Jamroji mengaku kagum dengan hadirnya BTV yang kami rintis. Sejak awal kemunculannya, dia mencoba mengamati mulai program hingga kualitas gambar. Semula Jamroji mengira, butuh modal besar untuk membangun BTV dengan kualitas saat ini. Perkiraannya benar. Hanya saja, investasi itu sudah terlaksana beberapa tahun sebelumnya.

    Tahun ini, kami tinggal menjalankan programnya saja. Pun Jamroji memberikan beberapa kritik dan saran kepada pengelolaan BTV berikutnya. Menurutnya, perkembangan teknologi yang makin masif harus mulai dimanfaatkan. Kecenderungan generasi saat ini untuk eksis di dunia maya pun juga mesti diperhatikan.

    “Masyarakat yang gemar bermain gadget bisa dimanfaatkan untuk menyuplai konten-konten kreatif di tv,” begitu pesannya.

    Pengelolaan studio pun demikian. Banyak hal yang harus diperhatikan dalam membuat studio tv, seperti estetika, fungsinya, dan keefektifannya. Tanpa terasa, sesi sharing selama satu jam itu pun harus diakhiri karena ada kesibukan lain yang diemban Jamroji. Saya pun juga harus bersiap untuk menyampaikan materi kepada bibit-bibit jurnalis muda dan berbakat, keesokan harinya.

    ***

    Agenda di UMM masih terus berlanjut. Usai belajar pengelolaan TV, kini saatnya berbagi ilmu kepada mahasiswa, sekaligus adik-adik tingkat yang saya tinggalkan amanah membesar pers mahasiswa yang saya dirikan, Media Mahasiswa.

    Pers mahasiswa yang satu ini memang unik. Kala profesi sebagai wartawan lebih banyak didominasi oleh laki-laki, justru di Media Mahasiswa yang dominan adalah perempuan. Itulah yang membuat saya lebih semangat untuk membagi ilmu dengan mereka.

    Bertajuk Kelas Inspirasi, saya diminta bercerita mengenai pengalaman selama delapan bulan menjadi jurnalis di Bontang Post. Mereka pun penasaran, bagaimana seorang jurnalis yang baru masuk di perusahaan media, bisa memperoleh jabatan sebagai redaktur sekaligus manajer dalam waktu yang sedemikian cepat. Kepada mereka, saya hanya memberikan satu tips, yakni bekerja dengan giat.

    “Di saat yang lain bekerja dengan keras, kita harus bekerja dengan lebih giat dan keras lagi,” kata saya di hadapan mereka.

    Pun beberapa pertanyaan sempat mengalir deras dalam sesi kelas inspirasi tersebut. Seperti suka duka menjadi jurnalis, rintangan terberat, hingga pertanyaan seputar cara membagi waktu dengan kegiatan lainnya. Beruntungnya, semua pertanyaan tersebut dapat saya jawab sesuai dengan pengalaman pribadi, sembari berharap benar-benar dapat memberikan inspirasi kepada mereka.

    Tiga jam kelas inspirasi pun tak terasa, hingga akhirnya harus menyudahi kelas tersebut dengan dikumandangkannya azan maghrib. Meski harus diakhiri, namun saya melihat tatapan optimis dan semangat untuk tetap menjadi jurnalis yang berkualitas ada pada mata mereka. Saya pun turut yakin, dari sekian yang hadir pada kelas inspirasi tersebut, satu orang di antaranya akan ikut ke Bontang, dan turut membuat kualitas Bontang Post menjadi semakin baik. Semoga! (***)

  • Bertemu Azrul di Graha Pena

    Bertemu Azrul di Graha Pena

    SAYA memiliki kesempatan langka saat masih di Bontang Post, 2017 lalu. Berkesempatan bertemu langsung dengan Azrul Ananda, yang kala itu CEO Jawa Pos Grup. Sekarang pun, jadi Presiden Persebaya. Bersama dengan abahnya, Dahlan Iskan, sering muncul di podcast Energi DI’s Way.

    Momen ini, akan saya bagikan kembali dalam blog ini. Sebelumnya, sudah terbit di harian Bontang Post. Selamat membaca.

    Oleh-Oleh Perjalanan dari Surabaya-Malang (1); Belajar Kelola Zetizen, Anak Muda Kreatif Berkumpul di Graha Pena

    Untuk pertama kalinya, Bontang Post mendapatkan kesempatan belajar lebih dalam tentang pengelolaan halaman anak muda, Zetizen. Kesempatan belajar langsung di Jawa Pos kemudian disambut baik, dengan mengirimkan penanggungjawab Zetizen Bontang Post, Muhammad Zulfikar Akbar ke Surabaya. Apa hasil yang didapat selama dua hari belajar di Graha Pena?

    Muhammad Zulfikar Akbar, Bontang 

    KESEMPATAN emas ini tak saya sia-siakan. Setelah terbit sekira 5-6 bulan yang lalu, Zetizen Bontang Post memang sedang mencari jati diri. Arahan dari Jawa Pos Group (JPG) untuk menerbitkan halaman anak muda ini di seluruh jaringan korannya memang sudah dilakukan oleh Bontang Post.

    Tapi, bagaimana kami mengelola halaman tersebut? Pertanyaan ini terus terngiang selama 2 bulan sampai 3 bulan terakhir. Sebab, selama Zetizen Bontang Post terbit, konten lokal masih kurang. Hanya 2-3 edisi saja konten lokal yang diterbitkan melalui halaman Zetizen ini. Selebihnya, merupakan konten Zetizen nasional.

    Saat undangan mengikuti kegiatan evaluasi halaman Zetizen se JPG di Graha Pena Jawa Pos Surabaya, Selasa-Rabu (25-26/4/2017) lalu datang ke Bontang Post, kami pun kaget. Sebab, meski sangat minim konten lokal di Zetizen Bontang Post, kami diwajibkan hadir dalam kegiatan tersebut. Berbeda dengan Kaltim Post, induk Bontang Post yang memang menyuguhkan halaman Zetizen Kaltim Post dengan konten-konten lokalnya.

    Rasa ingin belajar dan ingin tahu lebih tentang Zetizen pun semakin besar dengan kegiatan ini. Dengan perjalanan sekira 6 jam dari Bontang-Balikpapan menggunakan bus patas, dilanjutkan penerbangan dari Balikpapan-Surabaya sekira 1,5 jam, saya akhirnya menginjakkan kaki di Graha Pena, gedung milik Jawa Pos yang merupakan induk Bontang Post.

    Sekira pukul 14.00 Wib, acara pembukaan pun di mulai di lantai 4, bersebelahan dengan ruang redaksi Jawa Pos dan kantor DBL Indonesia. Tak hanya dari Bontang Post yang hadir. Sekira 37 media di bawah naungan JPG pun turut hadir. Mereka membawa sekira tiga kru dan satu orang alpha zetizen dari masing-masing provinsinya.

    Yang berasa istimewa, pada acara pembukaan kali ini, Komisaris Utama JPG yang juga Direktur Utama PT Jawa Pos Koran, Azrul Ananda menyempatkan hadir bersama New Zealand Trade Commisioner for Indonesia, Tim Anderson. Dalam pembukaan kali ini, Azrul dan Tim bersama-sama meluncurkan program Zetizen National Challenge go to New Zealand 2017.

    Sayangnya, Azrul yang hadir saat itu tidak bisa berbicara sama sekali karena pasca operasi pita suara. Sepanjang acara, putra dari Dahlan Iskan ini banyak memperlihatkan senyum lebarnya. Sambutan yang harusnya diberikan olehnya pun, digantikan oleh Corporate Communication PT Jawa Pos Group. Sisil yang mewakili Azrul menyebut, ke-38 media di bawah naungan JPG yang mendukung kerjasama dengan New Zealand dianggap sebagai hal yang luar biasa.

    “Respons dari zetizen di 34 provinsi begitu besar,” sebut Sisil.

    Tim yang fasih berbahasa Indonesia ini mengaku senang dengan program yang dibuat oleh Zetizen. Sebagai bentuk kerjasama yang baik dengan Jawa Pos, Tim pun akan memberikan program tambahan yakni magang selama tiga bulan di New Zealand kepada para pemuda Indonesia.

    “Selain program Zetizen Go to New Zealand, program magang ini khusus pemuda yang tertarik di dunia lingkungan,” ujar Tim.

    Acara pembukaan yang turut dihadiri 10 member alpha zetizen ini akhirnya ditutup dengan penandatangan kerjasama antara Zetizen Jawa Pos yang diwakili Azrul dengan New Zealand yang diwakili oleh Tim. Usai kegiatan tersebut, ke-38 penanggungjawab Zetizen se JPG kemudian berkumpul di tempat terpisah untuk mengikuti agenda berikutnya, yakni sosialisasi program Zetizen Go To New Zealand serta evaluasi halaman Zetizen.

    Kru Zetizen Jawa Pos pun saling bergantian menginformasikan tentang program terbaru Zetizen serta tampilan terbaru website zetizen.com. Tak hanya para penanggungjawab Zetizen yang hadir saat itu. Beberapa di antaranya bahkan pemimpin redaksinya yang turun langsung. Seperti dari Rakyat Bengkulu yang menerjunkan Zacky Antoni dalam kegiatan kali ini. Kepada Bontang Post, Zacky menyebut halaman Zetizen yang dikelolanya berjalan berbarengan dengan launching halaman Zetizen di seluruh Indonesia, 7 Maret 2016 lalu. Krunya pun juga banyak, dengan umur yang relatif muda.

    Saya juga bertemu dengan Joni, pengelola Zetizen Malut Post yang kini sedang memasuki semester akhir di jurusan Sastra Inggris. Di usia yang lebih muda dari saya, dia sudah menjadi penanggungjawab halaman Zetizen. Meski punya sekira tiga orang yang menjadi timnya, namun kinerjanya masih dianggap belum maksimal karena member yang terdaftar di zetizen.com masih lah sedikit.

    “Biar pengelolaan Zetizen di Malut Post lebih baik dengan ikut evaluasi ini,” ujarnya.

    Joni mungkin merupakan satu dari sekian banyak yang mempunyai alasan serupa seperti saya. Dia muda, bersemangat, dan ingin membuat Zetizen di daerahnya menjadi lebih baik. Yang saya sadari, mereka yang hadir selama dua hari ini, merupakan kumpulan orang-orang kreatif yang selalu punya ide-ide segar.

    Meski terkadang tema halaman Zetizennya sama dengan Zetizen Jawa Pos, namun kemasannya pun tak serupa, bahkan kata anak muda sekarang, lebih kece! Well, saya beruntung ikut dalam forum ini. Tak hanya membuka pikiran dan ide segar nan kreatif tentang Zetizen Bontang Post mengalir deras, namun membuat saya kali ini ikut merasa lebih muda! (*/bersambung)

  • By.U, Provider Internet Ngebut Anti Ribet

    By.U, Provider Internet Ngebut Anti Ribet

    SUDAH sepekan terakhir saya menggunakan provider internet By.U. Sudah lama juga saya tertarik dengan provider ini sejak kemunculannya. Namun karena waktu itu di Bontang belum ada, ya saya urungkan niat itu.

    Selang beberapa waktu kemudian, seorang teman saya mulai menggunakan provider itu. Dia memang biasa buka jasa live streaming di Bontang. Kebutuhan internet cepat sudah pasti. Melihat dia mulai menggunakannya, saya pun bertanya soal provider ini.

    Bagaimana kekuatan jaringannya? Berapa harganya? Murah atau tidak kuotanya? Bagaimana cara mendapatkannya? Ya beberapa pertanyaan ini ikut saya tanyakan. Jawabannya: 1) jaringan kuat; 2-3) relatif murah; 4) bisa pesan online dan ambil di Indomaret.

    Saya pun mencoba membeli melalui laman By.U dan mulai mendaftar. Daftarnya cukup mudah. Hanya dengan login via Facebook atau Google. Setelah itu akan diminta mengisi data diri, serta uniknya: BISA PILIH NOMOR TELEPON.

    Yang tak kalah unik lah: BISA REQUEST NOMOR TELEPON. Nah, gokil enggak tuh. Saya pun coba request di empat digit terakhir nomornya. Setelah memilih nomor, kita akan diarahkan untuk membayar. Apakah membayar dan mengambilnya di Indomaret, atau via dompet digital. Ternyata, bisa juga bayar dan ambil kartunya ini di Grapari Telkomsel. Ya, karena ini masih bagian dari Telkomsel ternyata. he he.

    Saya pun memilih membayar terlebih dulu dengan dompet digital, dan mengambilnya di Grapari. Karena, kalau ambil di Grapari, bisa kita ambil saat itu juga. Namun kalau pakai Indomaret, harus menunggu 3-5 hari dulu, plus membayar ongkos kirimnya. Kalau tidak salah, hanya Rp 5 ribu untuk ongkosnya.

    Namun sayang, saat itu saya memesan hari Sabtu, dan tentu saja Grapari tutup. Saya pun baru mengambilnya Senin pagi. Di pintu Grapari, saya cukup bilang ingin ambil kartu By.U, sambil menunjukkan bukti bayar saat kita selesai memesan di website. Saya pun diminta langsung menuju kasir, dan diberikan kartu perdana yang warnanya sangat gaul tersebut.

    Setelah itu, saya pun mulai membuka segelnya, dan munculah penampakan kartu perdana beserta SIM INJECTOR. Yes, By.U menyediakan SIM injector dalam paket kartu perdananya ini. Jadi yang mungkin pernah kehilangan SIM injector bisa berbahagia.

    Saya pun mulai melepas SIM card dari kartunya, dan memasangkannya di ponsel android saya. Kesan pertama saat SIM card By.U ini mulai terpasang: SINYALNYA TINGGI TERUS!
    Padahal, SIM card utama saya juga Telkomsel, sama-sama 4G. Tapi, sinyalnya hanya 2-3 bar. Sedangkan By.U, selalu di empat bar. Kalau pun turun, hanya turun satu bar. Itu pun di ruangan yang mungkin kedap dari jangkauan sinyal.

    Berikut hasil Speedtest By.U.

    Sementara di bawah ini hasil speedtest Telkomsel:

     

    Sudah terlihat perbandingannya kan?
    Oh iya, dalam paketan By.U ini saya sebelumnya membeli paket 15 GB untuk sebulan. Harganya, Rp 50 ribu aja cuy! Nah murah kan. Jadi, selama sepekan ini saya testing dengan bermacam hal: streaming, nonton youtube, disney+, upload foto dan video, dan aktivitas di dunia maya lainnya. Bahkan tethering dengan istri.
    Hasilnya, hanya dalam 7 hari, baru habis sekitar 3 GB. Masih ada 12 GB yang tersisa yang bisa dipakai selama sebulan. Sudah kencang, murah pula. Idaman setiap orang pastinya. Apakah ada kekurangannya? sejauh ini belum ada. Namun kalau pun ada, saya berharap tidak begitu mengecewakan.
    Oh iya, ini foto dalam paketan kartu perdana yang ada SIM injectornya.

     

    Nah keren kan? Buat yang aktivitas di dunia maya sangat tinggi seperti saya, kartu ini mungkin cocok dipakai. Selain jaringan kuat, juga murah yang membuat dompet aman, he he.

    Sekian review saya kali ini. BTW, ini pertama kali saya bikin review begini. Jika ada saran maupun komentar soal By.U, kolom komentar di bawah selalu tersedia. Dan jika penasaran ingin coba kartunya, sila klik link berikut. (*)