Category: Catatan

  • Gairah Wisata Lewat Media Sosial

    Gairah Wisata Lewat Media Sosial

    SAYA mengikuti pelatihan Promosi Wisata Kreatif melalui Media Sosial, Senin (23/7/2018) lalu. Bukan sebagai peserta, namun turut berpartisipasi sebagai pemateri, atau istilahnya inspirator di acara tersebut.

    Tema ini sungguh menarik, karena pelaku wisata di Bontang sudah aware dengan pentingnya promosi melalui media sosial. Hal inilah yang membuat saya langsung mengiyakan tawaran untuk menjadi pemateri di acara kali ini.

    Saya pun memulainya dengan memaparkan data yang berkaitan dengan tema ini. Pada 2017, ada sekitar 143,26 juta masyarakat Indonesia yang terhubung dengan internet. Ini berarti ada lebih dari 54 persen dari penduduk Indonesia juga sudah menjadi penduduk dunia maya.

    Data itu kemudian dikerucutan kembali berdasarkan kelompok usia. Ditemukan hasil, sekitar lebih dari 49 persen pengguna internet di Indonesia, adalah penduduk berusia 19-34 tahun. Saya menyebutnya ini adalah generasi Y, yang lahir di kurun waktu 70an akhir hingga 90an akhir.

    Sementara 29,55 persen merupakan pengguna di kelompok usia 35-54 tahun. Mereka saya sebut adalah generasi X yang lahir di kurun waktu 60an hingga 70an. Sisanya, yakni 16,68 persen yang dihuni kelompok usia 13-18 tahun. Saya menyebutnya generasi Z yang lahir di kurun waktu 90an akhir hingga pertengahan 2000an.

    Dan 4,24 persen adalah kelompok usia di atas 54 tahun yang saya sebut generasi baby boomers yang lahir di sekitar tahun 40 hingga 50an. Data yang saya peroleh dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) ini bisa jadi landasan awal untuk merancang strategi promosi yang tepat dari pelaku wisata kepada target audience-nya.

    Dari data ini pun sekilas bisa disimpulkan, jika generasi X, Y, dan Z adalah pasar potensial bagi para pelaku wisata untuk menggaet wisatawan. Sebenarnya, masih ada satu generasi lagi yakni generasi alpha, yaitu generasi yang lahir di tahun 2010 hingga saat ini.

    Sekadar diketahui, generasi baby boomers adalah generasi yang hidup dengan teknologi konvensional seperti koran dan radio. Sementara generasi X, mereka hidup di era berkembangnya televisi, dan generasi Y hidup di era berkembangnya teknologi internet. Sedangkan generasi Z dan generasi alpha adalah mereka yang hidup di saat internet dan gawai sudah semakin memengaruhi kehidupan. Segala keperluan, akses informasi, dan lain sebagainya didapatkan dari gawai dan internet. Cukup sekali klik, apa yang dicari akan ditemukan dengan cepat dan mudah.

    Kembali ke topik bahasan, dengan mengetahui pangsa pasar atau target umur wisatawan, maka dapat membantu untuk membuat konten-konten promosi yang lebih kreatif. Survei terbaru dari riset We Are Social Hootsuite, disebutkan Youtube merupakan media sosial yang lebih banyak diakses oleh netizen –sebutan warga dunia maya-. Baru diikuti oleh Facebook, Whatsapp, dan Instagram.

    Hasil riset ini juga bisa jadi pegangan bagi pelaku wisata. Youtube, yang notabene adalah media sosial untuk berbagi video masih jadi pilihan favorit netizen, utamanya untuk mencari informasi terkait tempat wisata yang dikunjungi. Sedangkan Facebook dan Whatsapp, adalah media sosial tempat menyebarkannya informasi promosi wisata, dan Instagram sebagai “album foto” digital saat ini.

    Lalu, seperti apa strateginya? Yakni dengan mengintegrasikan keempat media sosial tersebut menjadi satu. Youtube bisa dimanfaatkan oleh para pengelola wisata untuk mengeksplor lebih jauh pesona dan keindahan tempat wisata yang ditawarkan. Alih-alih tempat wisata, wisata kuliner pun juga bisa dibuatkan video yang sama dengan konsep ala-ala televisi masa kini.

    Caranya, konsep video tersebut secara kreatif, buatlah seolah-olah para penonton video tersebut di Youtube nanti ikut merasakan mendatangi tempat wisata tersebut, atau merasakan apa yang ada di video tersebut. Tak punya Sumber Daya Manusia (SDM) andal untuk buat video? Para pengelola wisata bisa menggaet anak-anak SMA yang punya mata pelajaran film. Anda tak repot, dan juga berbiaya murah. Anak-anak pun pasti senang diajak berwisata.

    Kemudian apa fungsi Facebook? Media sosial ini bisa “ditugaskan” untuk jadi halaman utama jika ingin mencari informasi lebih lanjut tentang tempat wisata yang dimaksud. Lengkapi mulai dari sejarah, aktivitas wisatawan yang sedang di tempat wisata tersebut dilengkapi beberapa fotonya, dan lain-lain. Sesekali, buatlah infografis tentang tempat wisata yang ditawarkan.

    Langkah selanjutnya apa? Bagikan postingan tersebut di grup-grup Facebook. Bisa grup jual beli, grup warga kota, dan lain sebagainya. Selanjutnya, Whatsapp untuk apa? Whatsapp sebagai aplikasi messenger dapat digunakan untuk membagikan konten-konten yang sudah dibuat di Facebook maupun Youtube. Penetrasi langsung kepada calon wisatawan melalui pesan jaringan pribadi (japri), ataupun grup Whatsapp dinilai efektif untuk menggaet wisatawan baru.

    Sementara Instagram, isilah dengan foto-foto yang “berbeda”. Berbeda seperti apa? Yakni dengan terkonsep dan terencana dengan baik. Selaiknya album foto yang baik, carilah angle atau sudut pandang yang menggambarkan keindahan wisata tersebut. Misalkan dengan deburan ombak, keragaman flora dan fauna, kelengkapan fasilitas, dan lain-lain. Sesekali, bisa dengan bantuan model untuk membantu memperindah foto tersebut.

    Cara-cara ini, saya yakin juga sudah dilakukan oleh para pelaku wisata di Kota Taman. Buktinya, sudah ada kenaikan jumlah wisatawan yang cukup signifikan di 2018 ini. Dari data Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Bontang, ada kenaikan hingga tiga kali lipat. Ini sudah merupakan awal yang positif, yang harus menjadi penyemangat untuk membenahi dan meningkatkan angka wisatawan di Bontang.

    Namun, seluruh langkah-langkah ini tak ada artinya jika tak ada konsistensi. Konsistensi dalam berpromosi di dunia maya. Selain itu, pentingnya tetap menjaga dan merawat tempat wisata baik oleh pengelola wisata itu sendiri maupun wisatawan itu sendiri. Sebab, saya pun melihat langsung masih banyak oknum wisatawan yang tak peduli dengan kebersihan dan keindahan tempat wisata yang dikunjunginya.

    Di salah satu obyek wisata Mangrove misalnya, dengan seenaknya membuang bungkus makanan di laut. Padahal, tempat sampah hanya berjarak sekitar 20 meter dari tempatnya berdiri. Jika Bontang ingin menjadi salah satu dari “Bali Baru”-nya Indonesia, maka perlu kerjasama antara pemerintah serta masyarakat.

    Dengan fokus pembangunan ke arah maritim, pengembangan potensi wisata maritim di Kota Taman saya yakin masih dapat terus berkembang. Terlebih, Pemkot Bontang sudah mendukung penuh dan masuk dalam visi-misinya. Tinggal bagaimana masyarakat turut meramaikan tempat wisata di Bontang.

    Tak hanya mengunjunginya, namun juga merawatnya, ikut menjaga kebersihan dan keindahannya, serta membagikan cerita keindahannya tersebut kepada masyarakat dunia maya, sehingga dapat tersebar ke seluruh penjuru nusantara, bahkan dunia. (*)

    Sudah terbit di Bontang Post.

  • Bijak Bermedia Sosial

    Bijak Bermedia Sosial

    BOCORNYA 87 juta data pengguna Facebook di seluruh dunia dan diduga dimanfaatkan oleh Cambridge Analytica, menjadi pukulan telak bagi Mark Zuckerberg. Sang Chief Executive Officer (CEO) harus menerima kecaman dari banyak pihak.

    Bahkan Selasa (10/4/2018) lalu, ia menjadi bulan-bulanan cecaran para senator Amerika Serikat (AS) yang mempertanyakan tentang keamanan data pribadi di media sosial ini. Data-data pengguna yang bocor, seperti tudingan dari berbagai pihak, dimanfaatkan untuk kepentingan Pemilu Presiden (Pilpres) AS 2016 lalu.

    Meski belakangan, Cambridge Analytica yang dituduh memanfaatkan kebocoran data tersebut membantahnya. Hanya sekira 30 juta data pengguna yang mereka manfaatkan, diperoleh dari perusahaan yang berizin resmi Facebook, dan tidak digunakan untuk membantu Donald Trump menang di Pilpres AS 2016.

    Meski begitu, publik sudah terlanjur geram. Facebook seakan sudah melalaikan kepercayaan yang diberikan oleh penggunanya saat pertama kali menyetujui terms and agreement kala mendaftar Facebook. Namun Facebook tak bisa disalahkan sendirian. Sebab, Zuckerberg dalam keterangannya di hadapan senator menyebut, pengguna punya akses penuh atas data yang mereka miliki.

    Pernyataan ini saya pastikan benar. Sebab, bagi orang yang benar-benar mau membaca terms and agreement, menyimak dengan baik segala persyaratan dan konsekuensi yang diterima jika menggunakan aplikasi pihak ketiga, pasti menemukan beberapa opsi yang dibebaskan kepada pengguna untuk memilihnya. Apakah memilih untuk mempersilakan aplikasi pihak ketiga terhubung dengan data profil Facebook, ataupun tidak memperbolehkan aplikasi pihak ketiga mengakses seluruh data yang kita miliki.

    Namun, banyak pengguna Facebook yang ternyata abai dalam melakukan “proofing”. Maksudnya, membaca dan menyimak dengan baik aturan serta konsekuensinya, sebelum bermain atau mengakses aplikasi pihak ketiga ini. Akhirnya, pengguna mengakses aplikasi pihak ketiga seperti permainan kepribadian, dan lain-lain. Sedangkan pengguna juga menyetujui mereka mengakses data pribadi yang kita miliki.

    Padahal, proses “proofing” ini penting agar kita benar-benar yakin untuk membagikan secara sukarela atau tidak data pribadi yang kita miliki kepada aplikasi pihak ketiga. Isu kebocoran data ini tak hanya ada di AS saja. Dari rilis yang disampaikan Chief Technology Officer (CTO) Facebook Mark Schoepfer, Indonesia berada di urutan ketiga dalam daftar negara yang terdampak, setelah AS di peringkat pertama dan Filipina di peringkat kedua.

    Menurut rilisnya, ada sekitar 1 juta akun Facebook di Indonesia yang bocor. Diyakini pula oleh berbagai pihak, data pengguna Facebook yang bocor di Indonesia itu dimanfaatkan untuk kepentingan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jakarta 2017 lalu.

    Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) selaku regulator sudah melayangkan surat peringatan kepada Facebook Indonesia, agar menjelaskan permasalahan terkait penyalahgunaan data pribadi pengguna Facebook oleh pihak ketiga. Pun meminta kepastian Facebook untuk menjamin data pribadi pengguna di Indonesia.

    Sayangnya, karena jawaban Facebook Indonesia dinilai kurang memuaskan, Kominfo melayangkan surat peringatan kedua kepada Facebook. Media sosial yang dipakai oleh 130 juta masyarakat Indonesia (data dari Internet World Stat tahun 2017) ini terancam ditutup oleh pemerintah, jika tak bisa memberikan jawaban yang memuaskan.

    Soal jaminan perlindungan data pribadi, sebenarnya sudah diatur dalam Peraturan Menteri (Permen) Kominfo Nomor 20 Tahun 2016 tentang Perlindungan Data Pribadi dalam Sistem Elektronik. Agar masyarakat paham tentang hak-haknya sebagai pemilik data pribadi, dalam pasal 26 dijabarkan secara jelas, di antaranya pemilik data pribadi berhak:

    a. Atas kerahasiaan data pribadinya;
    b. Mengajukan pengaduan dalam rangka penyelesaian sengketa data pribadi atas kegagalan perlindungan kerahasiaan data pribadinya oleh penyelenggara sistem elektronik kepada menteri;
    c. Mendapatkan akses atau kesempatan untuk mengubah atau memperbarui data pribadinya tanpa mengganggu sistem pengelolaan data pribadi, kecuali ditentukan lain oleh ketentuan perundang-undangan. (selebihnya bisa dibaca di permen kominfo).

    Atas kasus ini, jika memang ditemukan data pribadi masyarakat yang diambil dari Facebook dan dimanfaatkan untuk kepentingan lain, maka dapat mengajukan pengaduan langsung kepada menteri karena dinilai gagal memberikan perlindungan kerahasiaan data pribadinya.

    Meski begitu, baik pihak Facebook dan masyarakat tampaknya sudah harus mulai belajar satu sama lain. Pihak Facebook diminta untuk menjaga kepercayaan masyarakat untuk menjaga data pribadi penggunanya. Di sisi lain, masyarakat harus mulai bijak untuk menaruh data-data pribadinya di media sosial yang rentan diakses oleh semua orang.

    Semoga dengan kejadian ini, kita dapat memanfaatkan media sosial dengan baik, bijak, dan menggunakannya untuk kepentingan yang baik pula. Meski Facebook terancam diblokir, hal itu tidak menjadi masalah berarti. Facebook bukanlah kebutuhan primer. Masih banyak cara untuk terkoneksi satu sama lain dengan masyarakat dunia. Teknologi adalah tentang kebermanfaatannya untuk khalayak. Jika sudah tidak bermanfaat, lebih baik tinggalkan saja. (*)

    Sudah terbit di Bontang Post dengan dilakukan penyesuaian judul.

  • Reuni di UMM, Saling Berbagi dan Belajar

    Reuni di UMM, Saling Berbagi dan Belajar

    UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) adalah kampus tempat saya menimba ilmu. Kurang lebih empat tahun berada di Kampus Putih, turut membuka wawasan dan koneksi dengan orang-orang hebat. Kesempatan reuni kembali setahun pasca lulus pun terbuka, usai menghadiri kegiatan di Surabaya, 2017 lalu. Berikut kisah saya yang pernah terbit di harian Bontang Post.

    Baca juga: Bertemu Azrul di Graha Pena

    Oleh-Oleh Perjalanan dari Surabaya-Malang (2/Habis); Safari Kampus, Belajar Pengelolaan TV hingga Cari Bibit Jurnalis Muda

    Usai belajar di Graha Pena Jawa Pos Surabaya selama dua hari, Muhammad Zulfikar Akbar juga berkesempatan “pulang kampung” ke Malang. Di Kota Apel tersebut, banyak pelajaran yang bisa diperoleh untuk dibawa pulang ke Bontang.

    Muhammad Zulfikar Akbar, Bontang 

    SELAIN menemui keluarga yang telah kembali ke Malang, tujuan saya yang lain yakni belajar mengenai teknis pengelolaan stasiun tv yang ada di kampus almamater saya, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

    Tak banyak pengalaman menjadi bagian dari tv kampus tersebut selama berkuliah di kampus yang khas dengan gedung bundarnya dan warna putih di seluruh gedungnya. Untuk itulah, ini menjadi kesempatan emas untuk kembali belajar mengelola tv, untuk diadaptasi di Bontang TV (BTV).

    Stasiun TV bernama UMM TV tersebut bukanlah stasiun tv terestrial seperti kebanyakan tv lokal lainnya. Malahan, tv tersebut hanya aktif saat kegiatan kampus berlangsung, seperti seminar nasional, wisuda, dan kegiatan lainnya. Meski begitu, alat-alatnya cukup canggih untuk di kelasnya. Dibekali dengan ruangan mini studio yang representatif lengkap dengan pencahayaan dan green screen, serta master control room (MCR) yang apik, membuat siapa yang masuk dan melihatnya akan terkagum-kagum dan iri.

    Hal itu pula yang saya rasakan begitu memasuki ruang laboratorium ilmu komunikasi yang memuat studio dari UMM TV. Meski baru sekitar delapan bulan meninggalkan kampus tersebut, namun rasa kagum selalu timbul kala melihat studio tv itu. Terlebih, sembari melihat para mahasiswa semester dua sedang mempraktikkan mata kuliah dasar shooting dan editing, membuat saya sediki bernostalgia pada masa-masa kuliah.

    Di sana saya bertemu dengan kepala laboratorium yang sekaligus membidangi UMM TV, Jamroji. Usianya memang tak muda lagi. Meski tak mengetahui dengan pasti kisaran umurnya, namun rambutnya yang sudah memutih sudah menunjukkan bukti nyata. Meski begitu, Jamroji masih tetap semangat untuk mengajar, bahkan mengelola UMM TV di bawah kendali laboratorium ilmu komunikasi.

    Dalam bincang-bincang tersebut, Jamroji mengaku kagum dengan hadirnya BTV yang kami rintis. Sejak awal kemunculannya, dia mencoba mengamati mulai program hingga kualitas gambar. Semula Jamroji mengira, butuh modal besar untuk membangun BTV dengan kualitas saat ini. Perkiraannya benar. Hanya saja, investasi itu sudah terlaksana beberapa tahun sebelumnya.

    Tahun ini, kami tinggal menjalankan programnya saja. Pun Jamroji memberikan beberapa kritik dan saran kepada pengelolaan BTV berikutnya. Menurutnya, perkembangan teknologi yang makin masif harus mulai dimanfaatkan. Kecenderungan generasi saat ini untuk eksis di dunia maya pun juga mesti diperhatikan.

    “Masyarakat yang gemar bermain gadget bisa dimanfaatkan untuk menyuplai konten-konten kreatif di tv,” begitu pesannya.

    Pengelolaan studio pun demikian. Banyak hal yang harus diperhatikan dalam membuat studio tv, seperti estetika, fungsinya, dan keefektifannya. Tanpa terasa, sesi sharing selama satu jam itu pun harus diakhiri karena ada kesibukan lain yang diemban Jamroji. Saya pun juga harus bersiap untuk menyampaikan materi kepada bibit-bibit jurnalis muda dan berbakat, keesokan harinya.

    ***

    Agenda di UMM masih terus berlanjut. Usai belajar pengelolaan TV, kini saatnya berbagi ilmu kepada mahasiswa, sekaligus adik-adik tingkat yang saya tinggalkan amanah membesar pers mahasiswa yang saya dirikan, Media Mahasiswa.

    Pers mahasiswa yang satu ini memang unik. Kala profesi sebagai wartawan lebih banyak didominasi oleh laki-laki, justru di Media Mahasiswa yang dominan adalah perempuan. Itulah yang membuat saya lebih semangat untuk membagi ilmu dengan mereka.

    Bertajuk Kelas Inspirasi, saya diminta bercerita mengenai pengalaman selama delapan bulan menjadi jurnalis di Bontang Post. Mereka pun penasaran, bagaimana seorang jurnalis yang baru masuk di perusahaan media, bisa memperoleh jabatan sebagai redaktur sekaligus manajer dalam waktu yang sedemikian cepat. Kepada mereka, saya hanya memberikan satu tips, yakni bekerja dengan giat.

    “Di saat yang lain bekerja dengan keras, kita harus bekerja dengan lebih giat dan keras lagi,” kata saya di hadapan mereka.

    Pun beberapa pertanyaan sempat mengalir deras dalam sesi kelas inspirasi tersebut. Seperti suka duka menjadi jurnalis, rintangan terberat, hingga pertanyaan seputar cara membagi waktu dengan kegiatan lainnya. Beruntungnya, semua pertanyaan tersebut dapat saya jawab sesuai dengan pengalaman pribadi, sembari berharap benar-benar dapat memberikan inspirasi kepada mereka.

    Tiga jam kelas inspirasi pun tak terasa, hingga akhirnya harus menyudahi kelas tersebut dengan dikumandangkannya azan maghrib. Meski harus diakhiri, namun saya melihat tatapan optimis dan semangat untuk tetap menjadi jurnalis yang berkualitas ada pada mata mereka. Saya pun turut yakin, dari sekian yang hadir pada kelas inspirasi tersebut, satu orang di antaranya akan ikut ke Bontang, dan turut membuat kualitas Bontang Post menjadi semakin baik. Semoga! (***)

  • Bertemu Azrul di Graha Pena

    Bertemu Azrul di Graha Pena

    SAYA memiliki kesempatan langka saat masih di Bontang Post, 2017 lalu. Berkesempatan bertemu langsung dengan Azrul Ananda, yang kala itu CEO Jawa Pos Grup. Sekarang pun, jadi Presiden Persebaya. Bersama dengan abahnya, Dahlan Iskan, sering muncul di podcast Energi DI’s Way.

    Momen ini, akan saya bagikan kembali dalam blog ini. Sebelumnya, sudah terbit di harian Bontang Post. Selamat membaca.

    Oleh-Oleh Perjalanan dari Surabaya-Malang (1); Belajar Kelola Zetizen, Anak Muda Kreatif Berkumpul di Graha Pena

    Untuk pertama kalinya, Bontang Post mendapatkan kesempatan belajar lebih dalam tentang pengelolaan halaman anak muda, Zetizen. Kesempatan belajar langsung di Jawa Pos kemudian disambut baik, dengan mengirimkan penanggungjawab Zetizen Bontang Post, Muhammad Zulfikar Akbar ke Surabaya. Apa hasil yang didapat selama dua hari belajar di Graha Pena?

    Muhammad Zulfikar Akbar, Bontang 

    KESEMPATAN emas ini tak saya sia-siakan. Setelah terbit sekira 5-6 bulan yang lalu, Zetizen Bontang Post memang sedang mencari jati diri. Arahan dari Jawa Pos Group (JPG) untuk menerbitkan halaman anak muda ini di seluruh jaringan korannya memang sudah dilakukan oleh Bontang Post.

    Tapi, bagaimana kami mengelola halaman tersebut? Pertanyaan ini terus terngiang selama 2 bulan sampai 3 bulan terakhir. Sebab, selama Zetizen Bontang Post terbit, konten lokal masih kurang. Hanya 2-3 edisi saja konten lokal yang diterbitkan melalui halaman Zetizen ini. Selebihnya, merupakan konten Zetizen nasional.

    Saat undangan mengikuti kegiatan evaluasi halaman Zetizen se JPG di Graha Pena Jawa Pos Surabaya, Selasa-Rabu (25-26/4/2017) lalu datang ke Bontang Post, kami pun kaget. Sebab, meski sangat minim konten lokal di Zetizen Bontang Post, kami diwajibkan hadir dalam kegiatan tersebut. Berbeda dengan Kaltim Post, induk Bontang Post yang memang menyuguhkan halaman Zetizen Kaltim Post dengan konten-konten lokalnya.

    Rasa ingin belajar dan ingin tahu lebih tentang Zetizen pun semakin besar dengan kegiatan ini. Dengan perjalanan sekira 6 jam dari Bontang-Balikpapan menggunakan bus patas, dilanjutkan penerbangan dari Balikpapan-Surabaya sekira 1,5 jam, saya akhirnya menginjakkan kaki di Graha Pena, gedung milik Jawa Pos yang merupakan induk Bontang Post.

    Sekira pukul 14.00 Wib, acara pembukaan pun di mulai di lantai 4, bersebelahan dengan ruang redaksi Jawa Pos dan kantor DBL Indonesia. Tak hanya dari Bontang Post yang hadir. Sekira 37 media di bawah naungan JPG pun turut hadir. Mereka membawa sekira tiga kru dan satu orang alpha zetizen dari masing-masing provinsinya.

    Yang berasa istimewa, pada acara pembukaan kali ini, Komisaris Utama JPG yang juga Direktur Utama PT Jawa Pos Koran, Azrul Ananda menyempatkan hadir bersama New Zealand Trade Commisioner for Indonesia, Tim Anderson. Dalam pembukaan kali ini, Azrul dan Tim bersama-sama meluncurkan program Zetizen National Challenge go to New Zealand 2017.

    Sayangnya, Azrul yang hadir saat itu tidak bisa berbicara sama sekali karena pasca operasi pita suara. Sepanjang acara, putra dari Dahlan Iskan ini banyak memperlihatkan senyum lebarnya. Sambutan yang harusnya diberikan olehnya pun, digantikan oleh Corporate Communication PT Jawa Pos Group. Sisil yang mewakili Azrul menyebut, ke-38 media di bawah naungan JPG yang mendukung kerjasama dengan New Zealand dianggap sebagai hal yang luar biasa.

    “Respons dari zetizen di 34 provinsi begitu besar,” sebut Sisil.

    Tim yang fasih berbahasa Indonesia ini mengaku senang dengan program yang dibuat oleh Zetizen. Sebagai bentuk kerjasama yang baik dengan Jawa Pos, Tim pun akan memberikan program tambahan yakni magang selama tiga bulan di New Zealand kepada para pemuda Indonesia.

    “Selain program Zetizen Go to New Zealand, program magang ini khusus pemuda yang tertarik di dunia lingkungan,” ujar Tim.

    Acara pembukaan yang turut dihadiri 10 member alpha zetizen ini akhirnya ditutup dengan penandatangan kerjasama antara Zetizen Jawa Pos yang diwakili Azrul dengan New Zealand yang diwakili oleh Tim. Usai kegiatan tersebut, ke-38 penanggungjawab Zetizen se JPG kemudian berkumpul di tempat terpisah untuk mengikuti agenda berikutnya, yakni sosialisasi program Zetizen Go To New Zealand serta evaluasi halaman Zetizen.

    Kru Zetizen Jawa Pos pun saling bergantian menginformasikan tentang program terbaru Zetizen serta tampilan terbaru website zetizen.com. Tak hanya para penanggungjawab Zetizen yang hadir saat itu. Beberapa di antaranya bahkan pemimpin redaksinya yang turun langsung. Seperti dari Rakyat Bengkulu yang menerjunkan Zacky Antoni dalam kegiatan kali ini. Kepada Bontang Post, Zacky menyebut halaman Zetizen yang dikelolanya berjalan berbarengan dengan launching halaman Zetizen di seluruh Indonesia, 7 Maret 2016 lalu. Krunya pun juga banyak, dengan umur yang relatif muda.

    Saya juga bertemu dengan Joni, pengelola Zetizen Malut Post yang kini sedang memasuki semester akhir di jurusan Sastra Inggris. Di usia yang lebih muda dari saya, dia sudah menjadi penanggungjawab halaman Zetizen. Meski punya sekira tiga orang yang menjadi timnya, namun kinerjanya masih dianggap belum maksimal karena member yang terdaftar di zetizen.com masih lah sedikit.

    “Biar pengelolaan Zetizen di Malut Post lebih baik dengan ikut evaluasi ini,” ujarnya.

    Joni mungkin merupakan satu dari sekian banyak yang mempunyai alasan serupa seperti saya. Dia muda, bersemangat, dan ingin membuat Zetizen di daerahnya menjadi lebih baik. Yang saya sadari, mereka yang hadir selama dua hari ini, merupakan kumpulan orang-orang kreatif yang selalu punya ide-ide segar.

    Meski terkadang tema halaman Zetizennya sama dengan Zetizen Jawa Pos, namun kemasannya pun tak serupa, bahkan kata anak muda sekarang, lebih kece! Well, saya beruntung ikut dalam forum ini. Tak hanya membuka pikiran dan ide segar nan kreatif tentang Zetizen Bontang Post mengalir deras, namun membuat saya kali ini ikut merasa lebih muda! (*/bersambung)

  • Polling vs Survei

    Polling vs Survei

    Pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2020 kurang dari dua bulan. Tepatnya 9 Desember 2020. Suasananya seperti yang sudah dibayangkan: tiap hari makin panas.

    Adu program, argumen, dan gagasan kerap dilontarkan, terutama oleh para tim sukses dan pendukungnya. Utamanya, di media sosial. Baru-baru ini, ada tema teranyar yang dilontarkan: polling vs survei.

    Pada dasarnya, polling dan survei ini sama: alat untuk mengetahui jawaban atau pilihan populasi masyarakat. Dengan menggunakan sampel yang bermacam-macam: random sampling, atau sampel yang sudah ditentukan kriterianya.

    Tapi, apa yang membuat keduanya kerap dibenturkan? Beberapa orang menilai, survei lebih akurat karena melibatkan suatu lembaga. Dengan kata lain, terorganisasi. Mempunyai metode yang diklaim bisa dipertanggungjawabkan. Dengan keyakinan tersebut, survei diklaim sudah mewakili jawaban suatu populasi.

    Jawaban itu tak salah. Namun juga belum tentu benar. Kenapa? Karena dengan terorganisasi ini, potensi untuk memilih sampel tertentu tentu saja ada. Tak ada yang bisa menjamin, pemilihan sampel untuk survei dilakukan merata di seluruh tempat. Jika dalam kasus ini sebuah provinsi, belum tentu dilakukan di semua kota. Jika dalam kasus ini sebuah kota, belum tentu pula dilakukan di seluruh kelurahan pun kecamatan.

    Apakah ada potensi lembaga survei dibayar untuk memenangkan pilihan tertentu? Tentu saja jawabannya ada. Tapi ini hanya dugaan. Sejauh desas-desus yang kebenarannya perlu dibuktikan lagi. Jadi percaya dengan hasil survei adalah sah-sah saja. Tapi, jangan memercayainya bulat-bulat.

    Lalu, bagaimana dengan polling? Teknik ini kerap dijumpai, utamanya oleh media daring. Apa yang membuatnya lemah dan tak bisa dipercaya? Karena sudah banyak tool polling yang bisa dimanipulasi sedimikian rupa. Contohnya, seseorang bisa melakukan polling berkali-kali cukup dengan clear cache dan cookies browsernya.

    Hal ini sudah jamak terjadi. Dan jika ini yang dilakukan, hasil pollingnya memang tak bisa dipertanggungjawabkan. Namun, bagaimana jika ada metode tertentu, yang mengunci seseorang hanya bisa melakukan sekali polling? Meskipun di clear cache dan cookies browsernya, ia tak bisa melakukan polling ulang.

    Metode ini bisa dengan merekam IP Address pengguna. Dengan demikian, satu orang, hanya punya satu kali kesempatan melakukan polling. Hasilnya pun bagaimana? Dengan metode ini, angka voters mungkin lebih kecil. Namun hasilnya, pun mendekati angka real. Cara ini, diyakini mendekati dengan hasil survei, dengan cakupan yang lebih luas.

    Jadi apakah boleh percaya dengan polling dengan metode di atas? ya silakan saja. Sah-sah saja. Tapi sama dengan hasil survei di atas, jangan memercayainya bulat-bulat.

    Jadi, apa kesamaan baru antara polling dan survei? Jangan memercayainya secara utuh. Karena keduanya, belum tentu mencerminkan hasil sesungguhnya saat pemilihan nanti. Pilihan sesungguhnya, ada di hati masing-masing individu, yang mencurahkan pilihannya pada bilik suara, 9 Desember mendatang. (*)

  • Saya Pamit

    Saya Pamit

    SATU tahun delapan bulan di bontangpost.id. Atau persis empat tahun sudah sejak pertama kali menginjak Gedung Biru Bontang Post sebagai wartawan. Waktu yang tak singkat, namun terasa sebentar. Banyak memori yang terlukis, pun pengalaman yang membekas. Izinkan saya mengurainya, agar memori tersebut tetap hidup dalam sanubari.

    Senin, 1 Agustus 2016 adalah hari pertama saya bekerja sebagai wartawan surat kabar harian (SKH) Bontang Post. Saat itu masih dipimpin oleh Agus Susanto, yang kini menjabat Komisioner Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Bontang. Meski tidak memiliki desk khusus, namun pendidikan jadi salah satu favorit saya. Meliput sekolah semasa SMA saya jadi berita pertama yang terbit di koran ini.

    Hari-hari berikutnya pun bergulir. Pun tema-tema liputan yang diambil. Mulai kesehatan, olahraga, hukum, dan politik. Menulis berita memang sudah jadi “kebiasaan”. Sebab, semasa kuliah pun, saya turut aktif mendirikan pers mahasiswa di kampus. Untuk menantang diri, saya menawarkan membuat video company profile Bontang Post. Sembari mencari berita, sembari membuat video. Kerja saya kini nyaris 24 jam. Pulang kantor pun bisa jam 4 subuh.

    Namun itu semua terbayar, saat video tersebut rampung, dan diputar kala HUT ke-6 Bontang Post, 14 November 2016 (Video dapat dilihat di https://www.youtube.com/watch?v=x0ayCx4cWWo). Setelah itu, kantor mempercayakan saya menjadi asisten redaktur. Tugas saya selain mencari berita, kini bertambah dengan menyunting dan merencanakan tata letak halaman koran.

    Desember 2016, saya diminta membangun portal berita online dengan domain bontangpost.id. Portal ini saat pertama dibangun, sebagai tempat menaruh berita-berita dari koran Bontang Post untuk di-online-kan. Tentu saja, juga untuk mematahkan dominasi media-media online lain di Bontang yang mulai eksis. Beberapa bulan berikutnya, saya diangkat menjadi redaktur dengan tugas penuh menyunting dan merencanakan tata letak halaman, serta mengelola portal bontangpost.id tersebut.

    Waktu memang terasa singkat, apalagi ketika sudah “tercebur” dalam rutinitas pekerjaan. Januari 2018, saya dipercaya menjadi Redaktur Pelaksana Bontang Post. Tugas saya kini tak hanya di satu halaman saja, tak hanya di satu wartawan pula. Kini seluruh wartawan saya bisa mengkoordinasi, termasuk dengan redaktur. Tak hanya membantu tugas pemimpin redaksi, namun turut menjaga kualitas koran.

    Tak sampai setahun, kabar tak sedap tiba. Bontang Post dinyatakan ditutup, per 31 Desember 2018. Sedih, iya. Tak hanya harus berpisah dengan tim yang hebat, namun dengan media yang turut mempengaruhi jalan hidup saya. Apalagi, saya punya satu anak yang baru saja menghiasi kehidupan rumah tangga. Tak boleh larut dalam kesedihan.

    Beberapa hari berikutnya, Kepala Biro Kaltim Post Bontang, Edwin Agustyan yang saat itu menjadi General Manager Bontang Post sebelum ditutup, menawarkan untuk bersama-sama mengelola bontangpost.id. Tak disangka, manajemen Kaltim Post Group sebagai induk Bontang Post mengizinkan meneruskan dikelolanya Bontang Post. Tentunya sebagai wujud transformasi dari cetak ke online.

    5 Januari 2019, bersamaan dengan HUT Kaltim Post, bontangpost.id dinyatakan lahir. Tim kami pun tak banyak, hanya empat orang. Dengan masing-masing satu pemimpin redaksi, redaktur, wartawan, serta keuangan dan iklan. Saya, kembali dipercaya menjadi redaktur. Tak hanya mengurus soal keredaksian semata, hal teknis website pun saya kelola. Mulai peremajaan tampilan, hingga teknis seputar hosting.

    Setahun di bontangpost.id pun berlalu. Bahkan kini sudah 1,5 tahun usianya. Sampai saya mendapat tawaran di suatu tempat. Tawaran yang mudah-mudahan akan meningkatkan karir, serta kesejahteraan keluarga. Tawaran yang sudah datang silih berganti, namun akhirnya pilihan ini yang diambil.

    Sedih memang, ketika meninggalkan media yang diperjuangkan sedari nol. Sejak bontangpost.id masih belum dilirik relasi, hingga kini jadi media online nomor satu di Bontang. Namun saya pun bangga, karena meninggalkan media yang saya yakin akan terus tumbuh. Rasa-rasanya, sudah seluruh ilmu yang saya dapat di tempat ini, pun sudah seluruhnya saya berikan kembali.

    Kini sudah waktunya saya belajar lagi, di tempat baru. Pun juga memberikan hal yang sama. Selamat tinggal bontangpost.id. Terima kasih, saya pamit. (*)

  • Cemburu Konten Berujung Gugatan

    Cemburu Konten Berujung Gugatan

    Netizen tengah ramai membicarakan RCTI. Pasalnya, mereka menggugat Undang-undang (UU) Penyiaran ke Mahkamah Konstitusi (MK). Menurut televisi swasta tersebut, rumusan ketentuan Pasal 1 angka 2 UU Penyiaran a quo menimbulkan multi-interpretasi yang pada akhirnya melahirkan kontroversi di tengah publik.

    Gugatan tersebut lantas direspon publik. Tak sedikit yang mengecam langkah media milik Hary Tanoesoedibyo itu. Sebab, kebebasan mereka untuk melakukan live streaming atau siaran langsung di media sosial kini terancam. Jika gugatan tersebut dikabulkan, makna penyiaran dalam UU tersebut tak hanya berkutat di frekuensi radio, namun juga menyentuh media sosial. Setiap individu, kelompok masyarakat, dan badan hukum yang melakukan aktivitas siaran langsung di media sosial tanpa memegang izin penyiaran, akan dianggap ilegal.

    Respon serupa pun ditunjukkan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Dikutip dari Detik.com, perluasan definisi penyiaran akan mengklasifikasikan kegiatan seperti Instagram TV, Instagram Live, Facebook Live, YouTube Live, dan penyaluran konten audio visual lainnya dalam platform media sosial diharuskan menjadi lembaga penyiaran yang wajib berizin, ujar Direktur Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika (PPI) Kominfo Ahmad M Ramli.

    Sementara pihak penggugat beralasan, apabila ketentuan Pasal 1 angka 2 UU Penyiaran tidak dimaknai mencakup penyiaran menggunakan internet, maka jelas telah membedakan asas, tujuan, fungsi dan arah penyiaran antar penyelenggara penyiaran. Konsekuensinya bisa saja penyelenggara penyiaran yang menggunakan internet tidak berasaskan Pancasila, tidak menjunjung tinggi pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945, tidak menjaga dan meningkatkan moralitas dan nilai-nilai agama serta jati diri bangsa, demikian bunyi alasan judicial review RCTI-iNews TV dalam berkas itu.

    Di sini adalah letak masalahnya. Jika kekhawatiran penggugat adalah konten yang tidak berasaskan Pancasila, UUD 1945, dan tidak meningkatkan nilai moral, hal itu sudah dijawab oleh platform media sosial tersebut. Dalam standar komunitas Facebook (https://www.facebook.com/communitystandards/), tertera jika media sosial tersebut membatasi ekspresi atau melakukan sensor jika pengguna menyalahi beberapa nilai dasar. Seperti keaslian konten, keamanan yang mengakibatkan intimidasi, pengucilan, bahkan pembungkaman, privasi, serta martabat orang lain.

    Sama halnya dengan Instagram. Dikutip dari standar komunitasnya (https://help.instagram.com/477434105621119), tercantum  bahwa Instagram bukan tempat untuk mendukung atau mengagungkan terorisme, kejahatan terorganisasi, atau grup penebar kebencian. Menawarkan layanan seksual, membeli atau menjual senjata api, alkohol, dan produk-produk tembakau antar individu pribadi, serta membeli dan menjual obat-obatan terlarang atau dengan resep dokter (meskipun legal di wilayah Anda) juga tidak diizinkan. Instagram juga melarang penjualan hewan hidup antar individu pribadi, meskipun toko fisik mungkin menawarkan penjualan ini. Orang tidak boleh mengoordinasi perburuan ilegal atau penjualan spesies langka maupun bagian-bagian tubuh spesies tersebut.

    Aturan senada juga dikeluarkan oleh Youtube. Mekanisme sensor sebenarnya sudah dimiliki dan dikerjakan oleh platform-platform tersebut. Seperti halnya Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang mengawasi konten penyiaran televisi. Atau Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia yang melakukan sensor terhadap tayangan film sebelum diputar di bioskop maupun televisi.

    PERANG KONTEN

    Sifat televisi adalah “memaksa”. Dalam artian, penonton tak bisa memilih ingin tayangan seperti apa. Semua sudah disajikan oleh lembaga penyiaran. Namun berbeda dengan media sosial. Penggunanya punya kuasa penuh di tangan masing-masing, apa yang ingin mereka saksikan.

    Disadari atau tidak, gugatan tersebut juga menyiratkan ketakutan lembaga penyiaran akan kehilangan penonton. Canggihnya gawai saat ini, membuat masyarakat (umumnya perkotaan) tak lagi menonton televisi. Hiburan mereka kini bisa disokong dalam genggaman gawai. Apakah ingin menonton Live TV, TV on Demand, atau lainnya. Apalagi, usai menjamurnya video blogger (vlogger) akhir-akhir ini, yang justru mampu melahirkan konten lebih baik daripada televisi.

    Jika yang dipermasalahkan adalah konten, seharusnya mereka tak perlu menggugat ke UU Penyiaran. Karena ranahnya sudah berbeda. Televisi adalah medium. Media sosial juga medium. Sudah tidak bisa lagi menyamakan keduanya, atau memaksa media sosial diatur dalam UU Penyiaran yang sejatinya mengurusi media berbasis frekuensi. Ibarat makan bakso dicampur dengan soto, tentu rasanya tidak nyambung.

    Internet, atau media sosial diatur tersendiri dalam UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Dalam berbagai kasus pencemaran nama baik, perundungan, kriminal, dan kasus pidana lainnya selama ini di media sosial, selalu menggunakan UU tersebut. Meski UU tersebut masih tak sempurna, atau dimanfaatkan untuk menjerumuskan orang lain.

    Sementara jika menyangkut konten pornografi, ada UU Pornografi yang bisa dijadikan pedoman. Apalagi, platform media sosial turut melakukan sensor. Baik yang berdasarkan sistem, maupun laporan pengguna media sosial tersebut.

    Siaran langsung di media sosial merupakan salah satu bentuk kebebasan berekspresi yang menjadi hak asasi manusia. Mengekang kebebasan berekspresi tersebut, sama halnya dengan mengamputasi salah satu hak dasar manusia. Hal ini yang harus disambut oleh lembaga penyiaran. Bukan menolaknya, apalagi melawannya dengan menggugat ke pengadilan.

    Sudah saatnya lembaga penyiaran tersebut berkaca. Jika ingin bersaing dengan media sosial, buatlah konten yang bermutu dan mendidik. Tidak sekadar acara kehidupan selebritis yang belum tentu bisa diikuti seluruh pemirsanya, maupun sinetron sampai berjilid-jilid yang tak jelas alur ceritanya. Sesekali, berpikirlah seperti vlogger. Rancang kontennya, diskusi isinya, benchmarking tayangan serupa, dan eksekusi dengan baik.

    Sementara individu, atau kelompok masyarakat dan badan hukum selain lembaga penyiaran, tentu bisa lebih kreatif dan berhati-hati dalam membuat konten. Tidak asal membuat konten prank yang berujung jeruji besi. Buatlah konten sesuai keahlian dan kegemaran masing-masing. Dengan canggihnya teknologi saat ini, tentu kini tak sulit membuat konten yang enak ditonton, namun bisa mendidik dan menghibur.

    Jika sudah cemburu, apapun bakal dilakukan agar “cintanya” kembali. (*)

  • Influencer Kebablasan

    Influencer Kebablasan

    Jagat dunia maya kembali heboh. Kali ini, usai salah satu musisi Indonesia mengundang narasumber yang katanya menemukan antibodi Covid-19. Selain itu, ia juga bilang kalau tes Covid-19 seharusnya hanya Rp20 ribu atau Rp30 ribu saja. Seketika, pernyataan orang yang mengaku ahli mikrobiologi ini mengundang respon netizen. Tak sedikit pula pakar yang menyanggah pernyataan dalam video blog (vlog) berikut.

    KERJA JURNALISTIK

    Yang dilakukan sebagian besar influencer saat ini, semisal dialog bermodel podcast, atau dialog dua arah sebenarnya masuk dalam kerja jurnalistik. Model dialog tersebut lebih dikenal sebagai wawancara tatap muka. Dengan host sebagai wartawannya dan mengundang narasumber secara langsung. Apalagi, hasil dialog tersebut dibagikan secara luas ke masyarakat melalui kanal Youtube.

    Menurut Doug Newson dan James A. Wollert dalam Media Writing: News for the Mass Media (1985:11), berita adalah apa saja yang ingin dan perlu diketahui orang atau lebih luas lagi oleh masyarakat. Dalam kasus ini, perkara Covid-19 masih menjadi perhatian masyarakat luas. Yang jika ada informasi semisal penemuan vaksin atau apapun terkait hal tersebut, akan menyedot perhatian publik.

    Sementara informasi dapat dikatakan sebagai berita jika disiarkan atau dipublikasikan melalui media massa. Hal tersebut setelah melalui beberapa tahapan dalam proses jurnalistik. Seperti pengumpulan informasi (wawancara, penelitian, pengumpulan data), konfirmasi, penulisan, dan penyebarluasan kepada publik. Permasalahannya adalah, vlog yang dikeluarkan oleh para influencer ini tidak dipublikasikan melalui media massa, melainkan melalui kanal Youtube atau media sosial.

    MEDIUM BARU

    Kehadiran Facebook, Twitter, dan Youtube sebagai media baru memang tak bisa dihindari. Kecepatannya dalam menyebarkan informasi mengalahkan media mainstream. Bahkan ketiganya kerap menjadi rujukan media mainstream untuk menggali informasi.

    Apalagi, semenjak pandemi Covid-19 melanda, Youtube seperti menjadi media primadona. Publik figur berbondong-bondong memanfaatkannya untuk mencari sumber pendapatan baru. Setelah beberapa acara on air maupun off air banyak ditiadakan saat pandemi. Mulai dari konten reality showdaily life, maupun dialog dan podcast.

    Yang jadi persoalan adalah, dialog tersebut dibawakan oleh orang yang tidak pernah berkecimpung di dunia jurnalistik. Mereka bukanlah wartawan, dan tidak terdaftar dalam organisasi profesi wartawan. Sementara itu, untuk menjadi wartawan yang kompeten, mereka harus melewati uji kompetensi wartawan yang tak mudah dan tak murah.

    Sayang, saat penulis hendak memutar vlog kontroversial tersebut, sudah tak muncul di Youtube. Sang influencer pemilik akun sempat mengunggah instastory, yang menyebut videonya di-take down oleh Youtube. Penyebabnya, disebut karena konten yang tidak pantas.

    Belakangan, pemilik akun tersebut justru membela diri dengan meminta si narasumber yang harus meminta maaf kepada publik. Apalagi ditambah dengan dalih pembelaan, jika vlog kontroversialnya itu lebih banyak dibagikan oleh netizen ketimbang konten inspiratif yang ia produksi. Apakah alasan ini masuk akal? Pembaca bisa menilai sendiri.

    JAGA ETIKA

    Sebagai orang yang berkecimpung di dunia jurnalistik sekira 9 tahun, penulis termasuk yang tidak mempermasalahkan konten-konten dialog atau podcast dibawakan oleh para influencer. Ada beberapa alasan di dalamnya.

    Pertama, mereka adalah publik figur. Mereka memiliki banyak penggemar, yang bahkan dengan sukarela akan mengikuti atau meneladani ketokohannya. Dengan bekal itu, para influencer ini bisa memengaruhi minimal fansnya, kemudian menjalar ke masyarakat luas.

    Kedua, mereka didukung tim di balik layar. Terutama para influencer besar, artis ataupun tokoh-tokoh yang sudah malang melintang, mereka mempunyai tim kreatif yang seharusnya bisa memberikan ide terkait konten yang akan dibuat. Tak hanya sekadar video yang tidak goyang atau sinematografi yang apik, namun bisa menyumbang saran narasumber yang kredibel.

    Ketiga, koneksi yang luas. Poin ini sudah pasti dimiliki para influencer. Mereka bisa mengundang siapa saja yang mereka mau. Namun yang utama, sekali lagi harus penulis ulang, harus mencari narasumber yang kredibel. Profiling, atau penelusuran riwayat calon narasumber penting diketahui sebelum mengundangnya. Agar informasi yang disebarkan kepada khalayak, dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

    Selain influencer yang pasti pembaca sudah banyak tahu dari tulisan di atas, masih banyak influencer lain yang menghasilkan konten dialog namun berbobot. Sebut saja di antaranya Deddy Corbuzier, Helmy Yahya, dan lain-lain. Kekuasaan media sosial sebenarnya sudah ada di tangan masing-masing. Tinggal bagaimana kemauan kita untuk memilih, apakah tetap akan menonton konten yang berkualitas atau yang kontroversial.

    Dengan kejadian ini, semoga influencer tidak lagi asal dalam membuat kontennya. Karena meskipun mereka bukan wartawan, namun kerja-kerja jurnalistik yang dilakukan mesti berdasarkan etika dan proses jurnalistik  yang benar. Jika tidak tahu prosesnya, tanyakan kepada ahlinya yang sebenarnya. Jangan pura-pura tahu, sehingga menjadi influencer yang kebablasan. (*)

  • Korona dan Self-Recovering Bumi

    Korona dan Self-Recovering Bumi

    WABAH corona virus disease (Covid-19) kini sudah jadi pandemi. Hampir setiap negara di dunia sudah terjangkiti. Tak ada yang dapat memastikan kapan wabah ini akan berakhir. Berbagai macam penelitian terus dikaji, hingga vaksin ditemukan untuk menyudahi pandemi ini.

    Lebih dari tiga bulan dunia bertarung dengan virus ini. Ribuan nyawa pun sudah melayang akibat terjangkit covid-19. Tak mengenal usia, jabatan, dan strata sosial. Semua bisa terkena penyakit yang diakibatkan makhluk berukuran 120-160 nanometer ini.

    Dampaknya pun luar biasa besar. Seluruh pergerakan manusia dibatasi. Kampanye stay at home dan work from home (WFH) digaungkan. Anjuran physical distancing terus digalakkan. Semua demi mencegah penularan virus yang bisa menyebar melalui droplet ini.

    Saat masa-masa inilah, rupanya bumi sedang menyembuhkan dirinya. Para ilmuwan menyebut, lapisan ozon bumi yang lubang, kini mulai menutup kembali. Tingkat polusi di beberapa kota dunia menunjukkan penurunan cukup drastis. Bukti kualitas udara mulai membaik. Sejumlah ilmuwan bahkan menyebut, dunia akan berubah 180 derajat usai pandemi korona ini berakhir.

    Di beberapa foto yang dibagikan lewat media sosial juga menunjukkan hal yang sama. Langit Jakarta misalnya. Sebelum virus korona mulai mewabah, langit ibukota negara ini seakan tak pernah lepas dari polusi. Warna abu-abu jadi warna yang khas di langit Jakarta. Namun, beberapa foto terakhir yang diunggah netizen, menunjukkan langitnya kini berwarna biru. Semoga kualitas udara yang baik ini pun bertahan hingga pasca-korona.

    Tengok juga Sungai Venesia, Italia. Pasca kebijakan lockdown negara itu, air sungai tersebut menjadi lebih jernih dari sebelumnya. Ikan-ikan tampak asyik berenang, tanpa ada kapal wisata yang mengganggunya. Hal ini menjadi pemandangan baru bagi penduduk setempat. Sembari melepas penat karena kebijakan lockdown.

    Ide untuk seluruh penduduk bumi sehari berada di rumah, rasa-rasanya jadi diperlukan. Karena di saat pandemi ini saja, bumi mendapat kesempatan untuk “bernapas”. Meringankan beban yang diakibatkan ulah manusia. Memberikan waktu bumi untuk menyembuhkan dirinya kembali. Karena jika kita menyayangi bumi, bumi pun akan ikut menyayangi kita. Bisa jadi, wabah ini pun sebenarnya adalah buah tangan perbuatan manusia.  (***)

    Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (ar-Rum/30:41).

  • Memulai Kembali

    LIMA Januari dulu bukanlah apa-apa. Hanya sebuah tanggal kosong yang diisi dengan aktivitas biasa. Tak ada makna tersirat maupun tersurat di dalamnya. Setidaknya, anggapan itu ada sebelum perubahan itu menerjang.

    Per 2019, surat kabar harian (SKH) Bontang Post resmi melebur ke induknya, Kaltim Post. Halamannya tetap ada, namun kembali naik ke kapal induk, setelah sebelumnya berlayar dengan kapal sendiri. Tapi kapal kecil itu ternyata masih tetap berlayar, dengan membawa arah baru. Kapal yang kini bernama Bontangpost.id

    Perjalanan kapal ini dimulai 5 Januari 2019. Ombak datang silih berganti menerjang. Pun di tengah jalan pergantian awak kapal sempat terjadi, agar kapal ini masih tetap dapat berlayar. Setahun perjalanannya di samudra dunia maya, kehadiran kapal ini ternyata masih digemari. 

    Tanggal 5 Januari kini punya arti. Bermakna mulai kembali berlayarnya kapal Bontangpost.id. Menyebarkan informasi yang mencerdaskan dan menginspirasi. Pun tanggal yang sama untuk berlayarnya sang kapal induk. Agar bersama-sama mengarungi samudra dunia media, dengan tantangannya yang semakin kompleks.

    Selamat HUT ke-1 Bontangpost.id, Selamat HUT ke-32 Kaltim Post. (*)