Politik Sandiwara

Politik Sandiwara
Cover buku Komunikasi Politik dalam Masyarakat Tidak Tulus. (Facebook Nurudin)

TAK dipungkiri, politik sudah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya kehidupan politisi. Jika politik dalam arti luas adalah kegiatan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, maka hampir setiap kehidupan kita adalah kegiatan politik. Namun dalam arti sempit, politik merupakan segala urusan menyangkut negara atau pemerintahan melalui penentuan tujuan dan cara mencapai tujuan tersebut.

Dalam praktiknya, terjadi komunikasi politik antara penguasa dengan rakyatnya. Atau anggota dewan dengan konstituennya. Namun sering kali, komunikasi antar keduanya tersumbat. Malah, demi meraup simpati masyarakat, politisi mengobral janji yang belum tentu dapat ditepati. Sementara dari masyarakat pun menerima dengan setengah hati. Di depan tersenyum kepada penguasa, namun di belakang bisa menghujat habis.

Itu salah satu contoh fenomena yang diangkat Nurudin dalam buku “Komunikasi Politik dalam Masyarakat Tidak Tulus”. Nurudin mencoba mengurai masalah carut-marut kehidupan politik di Indonesia sejak dahulu hingga kini bermuara pada satu hal, yaitu berkembang biaknya komunikasi masyarakat yang tidak tulus. Sikap ini yang kemudian memengaruhi perilaku, termasuk dalam kehidupan politik.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang ini bahkan mencoba menggambarkannya dengan lingkaran setan ketidaktulusan. Ini adalah gambaran bagaimana ketidaktulusan dalam berkomunikasi politik, merambat hingga ke sikap elite politik dan memengaruhi kebijakan yang dikeluarkan penguasa. Pun penuh dengan pencitraan, keculasan, dan tujuan-tujuan terselubung.

Untuk mengurai masalah komunikasi tersebut, Nurudin membagi buku setebal 200 halaman tersebut menjadi empat bagian. Bagian pertama membahas bagaimana elite politik mencoba memengaruhi masyarakat dengan beragam cara. Nurudin menulis, negeri ini penuh dengan skenario politik. Mulai dari pemerintah, sampai kelompok masyarakat yang berseberangan masing-masing punya skenario masing-masing. Masyarakat, akhirnya hanya menjadi “alat” untuk mencapai tujuan skenario politiknya.

Di bagian kedua, mengulas tentang peran partai politik (Parpol) yang fungsi idealnya semakin tereduksi. Dalam teori, Parpol adalah kendaraan politik untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu berkuasa. Namun saat berkuasa, bisa jadi Parpol akan diam saat ada kebijakan kadernya yang tak sesuai harapan masyarakat. Padahal sebelum berkuasa, partai-partai tersebut seolah bersama rakyat menentang ketidakadilan.

Bagian ketiga, berbicara tentang pasang surut dinamika politik masyarakat. Bentuk-bentuk pragmatisme masyarakat dalam berpolitik, masih menjamurnya politik uang, adalah bentuk dinamika politik masyarakat. Apalagi gara-gara perbedaan pilihan dan kepentingan, masyarakat mudah terbelah dan saling benci. Tak membahas pada substansi isi, namun pada figure dan ketidaksukaan.

Sementara bagian keempat, mengulas tentang bagaimana aturan hukum bisa berubah sesuai kepentingan penguasa. Seperti sudah menjadi watak, di mana setiap produk aturan atau undang-undang di Negara mana pun dan pada kepemimpinan siapa pun akan mencerminkan rezim yang berkuasa.

Buku ini merupakan kumpulan keresahan Nurudin yang sudah dituangkan sebelumnya dalam berbagai tulisan opini di media massa, bahkan sejak lebih dari lima tahun. Namun, konteks dan fenomenanya masih aktual hingga kini. Melalui buku ini, Nurudin ingin mengajak masyarakat untuk kritis, tidak perlu fanatik kepada satu figur, jika akhirnya mengkhianati kepercayaan yang diberikan. Cukup dibuat santai, agar tidak ada sakit hati jika politisi atau penguasa tersebut tidak menepati janjinya.

Terbitnya buku ini juga berada di momen yang tepat saat pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak akan dilangsungkan. Buku ke-21 milik Nurudin ini cocok menjadi referensi bagi para pemangku kepentingan, calon kepala daerah, dan masyarakat agar menjadi tamparan diri sendiri, agar lingkaran setan ketidaktulusan dapat terputus. Meskipun rumit, pelik, dan jalan berliku. Selamat membaca. (*)

DATA BUKU

Judul buku: Komunikasi Politik Dalam Masyarakat Tidak Tulus

Pengarang: Nurudin

Penerbit: Prenada, Jakarta

Tahun Terbit: Juli 2020

Jumlah halaman: xiv + 198

Peresensi: Muhammad Zulfikar Akbar

Tulisan ini telah terbit di Bontangpost.id

0 Shares:

Berikan Komentar

You May Also Like