Korona dan Self-Recovering Bumi

Korona dan Self-Recovering Bumi
Ilustrasi: Line Today

WABAH corona virus disease (Covid-19) kini sudah jadi pandemi. Hampir setiap negara di dunia sudah terjangkiti. Tak ada yang dapat memastikan kapan wabah ini akan berakhir. Berbagai macam penelitian terus dikaji, hingga vaksin ditemukan untuk menyudahi pandemi ini.

Lebih dari tiga bulan dunia bertarung dengan virus ini. Ribuan nyawa pun sudah melayang akibat terjangkit covid-19. Tak mengenal usia, jabatan, dan strata sosial. Semua bisa terkena penyakit yang diakibatkan makhluk berukuran 120-160 nanometer ini.

Dampaknya pun luar biasa besar. Seluruh pergerakan manusia dibatasi. Kampanye stay at home dan work from home (WFH) digaungkan. Anjuran physical distancing terus digalakkan. Semua demi mencegah penularan virus yang bisa menyebar melalui droplet ini.

Saat masa-masa inilah, rupanya bumi sedang menyembuhkan dirinya. Para ilmuwan menyebut, lapisan ozon bumi yang lubang, kini mulai menutup kembali. Tingkat polusi di beberapa kota dunia menunjukkan penurunan cukup drastis. Bukti kualitas udara mulai membaik. Sejumlah ilmuwan bahkan menyebut, dunia akan berubah 180 derajat usai pandemi korona ini berakhir.

Di beberapa foto yang dibagikan lewat media sosial juga menunjukkan hal yang sama. Langit Jakarta misalnya. Sebelum virus korona mulai mewabah, langit ibukota negara ini seakan tak pernah lepas dari polusi. Warna abu-abu jadi warna yang khas di langit Jakarta. Namun, beberapa foto terakhir yang diunggah netizen, menunjukkan langitnya kini berwarna biru. Semoga kualitas udara yang baik ini pun bertahan hingga pasca-korona.

Tengok juga Sungai Venesia, Italia. Pasca kebijakan lockdown negara itu, air sungai tersebut menjadi lebih jernih dari sebelumnya. Ikan-ikan tampak asyik berenang, tanpa ada kapal wisata yang mengganggunya. Hal ini menjadi pemandangan baru bagi penduduk setempat. Sembari melepas penat karena kebijakan lockdown.

Ide untuk seluruh penduduk bumi sehari berada di rumah, rasa-rasanya jadi diperlukan. Karena di saat pandemi ini saja, bumi mendapat kesempatan untuk “bernapas”. Meringankan beban yang diakibatkan ulah manusia. Memberikan waktu bumi untuk menyembuhkan dirinya kembali. Karena jika kita menyayangi bumi, bumi pun akan ikut menyayangi kita. Bisa jadi, wabah ini pun sebenarnya adalah buah tangan perbuatan manusia.  (***)

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (ar-Rum/30:41).

0 Shares:

Berikan Komentar

You May Also Like
Read More

Saya Pamit

SATU tahun delapan bulan di bontangpost.id. Atau persis empat tahun sudah sejak pertama kali menginjak Gedung Biru Bontang…
Humanis vs Arogansi
Read More

Humanis vs Arogansi

Saya melihat satu isu yang menarik diperbincangkan. Terkait polisi yang ingin dicitrakan sebagai aparat yang humanis. Kapolri Jenderal…